August 14, 2014

The Art of Being Born into a Javanese Clan


"Mba Vica maunya dipanggil apa? Mba, Tante, apa Bude?"

Bocah kecil sebaya my lil princess itu bertanya dengan polosnya.

"Yaah, maunya sih Tante. Tapi kalau manggil Tante, nanti kowe diseneni ibumu", jawabku sambil meringis.

"Yo wis, aku celuk Tante yooo?
"Asyiik... iyooo"

Tapi toh tetap saja bocah 5 tahun itu harus memanggilku mbak, karena kalau dirunut, kami ini berada dalam satu garis generasi yang sama di klan keluarga besar mamiku.

Waaah... lucu juga rasanya dipanggil mbak oleh sepupu yang umurnya bahkan sebulan lebih muda dari lil princess. Lucunya lagi, karena urutannya ia adalah sepupuku, maka anak-anakku 'harus' memanggilnya TANTE atau BU Lik.

Ibunya si bocah sendiri lebih muda dariku. Seumur adikku yang kedua pula. Tapi saya harus memanggilnya Tante, karena runutannya, ia adalah adik sepupu Mami. Yah, karena lebih muda, saya panggilnya Mba saja.

Panggilan berdasar urutan generasi ini memang masih kental dipegang oleh klan kami yang kebetulan dulunya belum banyak orang. Eyangku merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Mamiku adalah anak pertama dari lima anak Eyang. Jarak umur mami dengan adik Eyang yang tertua hanya 5 tahun saja.

Jadi alhasil, saya adalah cucu tertua di klan kami. Dan Mas R-ku adalah cicit pertama.

Dulu saja saat kami masih kecil-kecil, saya terbiasa memanggil Eyang Nik adik Eyang Uti  dengan sebutan Bu-De, karena beliau malu masih muda sudah dipanggil Eyang. Dan anak-anak Eyang-eyang yang lain, yang seharusnya saya panggil Oom dan Tante, aku panggil mbak dan mas. Bahkan oom terkecil di angkatan Mami, yaitu putra bungsu Eyang termuda, aku panggil dengan nama saja.

Karena seumur, saya malah lebih akrab dengan tante-tante yang sepupu Mami. Kepada mereka, saya terbiasa memanggil Mba bukan Tante seperti yang seharusnya.

Selama 2 bulan terakhir berlibur di Indonesia ini, alhamdulillaah banyak pertemuan keluarga besar sehingga kisah-kisah awkward tentang panggilan ini banyak bermunculan. Sayang, si empunya blog lagi males nulis. Padahal banyak banget yang mau diceritain. Apalagi di bulan Juli kemarin. Moga2, setelah liburan selesai, semangat nulis kembali lagi setelah dormant 2 bulan. Well, a girl can wish toh? :)

Kembali ke soal panggilan ini, karena saya cucu tertua dan anak-anak adalah cicit pertama, maka dengan sukses semua sepupu Mami pun, menjadi Eyang. Eyang termuda saya mempunyai 4 orang anak yang usianya lebih muda dari saya. Saat mereka menikah, seorang Tante yang masih saya panggil mbak, mewanti-wanti calon istrinya.

"Beneran mau nikah sama dia nih? Dia ini kakek bercucu 2 loo"

Walaah, masak yang kelahiran akhir dekade 80an, sudah punya cucu. Ada-ada saja, tapi bener kan, memang urutannya seperti itu.

Sementara, istri 'oom' saya juga merasa malu dipanggil Eyang seperti dulu almarhum Eyang Nik. Jadi direquest lah anak-anak untuk manggil Bude saja.

Yah, mau bagaimana. Sudah dicetak dari sananya, kalau harus seperti itu. Tidak seperti di keluarga suami yang memanggil sesuai umur. Seorang yang kedudukannya sebenarnya adalah kakak sepupu yang lebih tua, memanggil suamiku yang merupakan cucu tertua dengan sebutan abang. Malah ada seorang tante misan, memanggilnya dengan sebutan abang, karena si tante lebih muda usianya. Lain padang, lain ilalang lah ceritanya.

Jadi, sedikit advis buat yang mau menikah dengan pria/perempuan Jawa, tanya dulu, sudah punya cucu belum....heheheh.... Just kidding ;)

Sibuk ngatur posisi sebelum foto


2 comments:

  1. IMHO di situ justru letak "keasikannya" ya. Agak2 ajaib tapi yaaa begitulaah, hehehe... Nice post. Salam kenal ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe memang ajaib ya. Seringnya sih buat jadi lucu2an or malah kagok aja karena sudah sama2 dewasa mau panggil mbak or tante, nama aja atau hrs pake mas hhihih... makasih ya sudah mampir. salam kenal

      Delete