September 8, 2015

Garuk Otak Soal Pengungsian Syria

Masih ketinggalan di dalam memoriku, percakapan dengan seorang teman saat mengisi waktu sepanjang perjalanan dalam sebuah taxi di Jeddah. Mendengar keinginanku untuk pergi keluar dari Saudi dan kembali ke Belanda atau negara Eropa lain, tiba-tiba dia berkata bahwa ada hadits yang melarang seorang muslim untuk menetap di negara kafir apalagi membeli rumah disana. Terus terang saja aku kaget. Hadits darimana itu. Dia hanya mengatakan pernah baca atau dengar. Lalu aku bertanya, lalu bagaimana dengan muslim yang memang asalnya dari negara yang disebut kafir itu sendiri. Lagipula siapa yang punya negara? Bukannya ini bumi Allaah, disinilah kita bisa berjalan sebagai kafillah. Lalu mengapa bisa muncul hadits yang melarang hal yang seperti itu. Walau ilmu agama saya tidak ada, apalagi soal hadits, tapi setahu saya, Islam itu penuh logika dan tidak mempertentangkan antara satu hal dengan yang lainnya. Semua ada penjelasannya  kecuali yang memang tidak ada penjelasan yang menjadi rahasia Illahi.

Memang setelah saya coba minta bantuin oom gugel, ketemu juga hadits yang dimaksud teman saya itu. Namun logikanya masih tidak masuk di otak saya, karena bukankah bumi Allaah itu luas dan kita bisa berpindah di manapun. Lalu bukankah opresi bisa ada dimana saja, siapapun pemimpinnya.

Hal ini muncul kembali di pikiranku saat masalah pengungsi Syria memenuhi headlines dimana-mana. Mengapa pengungsi tersebut bukannya lari ke negara tetangganya yang muslim dan kaya raya seperti Saudi, Kuwait, Bahrain. Bukankah kita harus menolong sodara sesama muslim yang sedang dalam kesulitan, apalagi menyangkut keamanan diri. Dan sebagai pengusung hadits, bukankan seharusnya pemimpin negara2 tersebut berpegang pada hadits bahwa muslimin tidak boleh berada di negara kafir.

Mereka, negara-negara itu bagaikan sudah menutup pintu bagi para pengungsi itu sehingga terpaksa mereka lari ke Eropa. Saudi telah banyak menerima pengungsi dari Yaman, namun apa salahnya menerima sekitar ribuan pengungis lagi dari Syria? Sementara ratusan ribu sudah ditampung negara2 yang berbatasan dengan mereka, bahkan dengan Libanon dan Iraq yang keadaannya kurang lebih sama dengan Syria.

Disitulah saya jadi merasa tergelitik untuk menulis tentang ini. Menetap di SAudi selama 7 tahun, seharusnya tidak membuatku heran mengapa mereka tidak menerima sebanyak mungkin pengungsi. Sistem kontrak expatriates saja bagaikan sistem modern slavery dengan model kafil/sponsor yang berkuasa penuh atas pegawainya, tak peduli white or blue collar, level manajer ataupun level kacung. Semua sama perlakuannya dalam kontrak dengan kafil. No free movement dan kontrak bisa sewaktu-waktu terminated tanpa alasan. Bahkan paspor pun ditahan oleh perusahaan sehingga tidak dapat sewaktu-waktu keluar dari Saudi. Dan sekarang, mungkin untuk apa mereka mau menerima lebih banyak pengungsi? Budget saja sekarang defisit. Walaupun masih ada reserve, tentu akan terus terkuras, sementara penghasilan utama mereka dari minyak yang saat ini harganya terus turun. Jadi, untuk apa pusing mengurus orang lain?

Kartun sindiran ke negara Gulf yang beredar di twitter.com

Di sisi lain, ada hal yang mengganjal pemikiranku dan ilmu geografiku. Bagaimana caranya para pengungsi itu terdampar menuju ke negara2 Eropa barat? Bila saya sedang ketakutan, saya tentunya akan mengungsi ke tempat terdekat yang bisa memberi saya perasaan aman dan tempat melepas lelah serta kembali berkumpul bersama keluarga. Masih masuk akal saat melihat kapal terdampar di lepas pantai Turki atau negara-negara mediteranean lainnya. Dan juga saat terlihat di layar TV, ribuan orang mengantri di Bulgaria dan Hungaria untuk bisa mengajukan asilum. Semua masih masuk akal. Di peta di bawah ini, terlihat memang negara-negara tersebut lah yang berbatasan dengan laut penghubung Syria dengan Eropa.


Peta Pengungsian Syria. 
Letak Syria masih agak di bawah sebelah kanan Turkey
source: BBC


Tapi, saat kemudian ternyata asylum banyak diajukan ke negara2 kaya Eropa seperti Jerman, itulah yang mulai bikin jari saya juga gatal untuk menulis.


Bila saya dalam keadaan takut, rasanya tidak akan terpikir oleh saya untuk terpikir hal-hal material. Bila misalnya saya sedang berjalan dalam badai, kemudian terdampar di rumah terdekat dan diberikan paling tidak tempat berteduh, rasanya sudah cukup bagi saya. Apalagi lalu kemudian si tuan rumah walau sibuk berbaik hati menawarkan tempat di ruang tamunya.


Menurut statistik, walau Itali dan Yunani menampung pengungsi terbanyak karena letak geografisnya, tetapi ternyata Jerman merupakan negara yang paling banyak dituju para pengungsi untuk mengajukan asilum. Kenapa? Karena Jerman adalah negara yang paling "generous" dalam mengurus pengungsi. Selain diberi shelter, bila mereka mendapatkan visa asilum dan menetap sebagai pengungsi, mereka akan mendapat semacam tunjangan yang cukup untuk hidup per bulannya.

Seharusnya dengan adanya hukum dalam EU yang menyatakan pengungsi harus meminta asylum di negara EU pertama yang mereka datangi, mereka tidak akan bergerak dari Itali atau Yunani. Namun sayangnya kedua negara yang sedang kesulitan ekonomi tersebut, tidak menjalankan hukum tersebut, sehingga imigran pun bebas mencari tempat yang sesuai dengan keinginan perut mereka. Jadi apakah salah bila saya merasa ada yang aneh dari para pengungsi ini? Sempat-sempatnya sebagian dari mereka berpikir untuk mendapatkan perut enak atau masa depan, sementara sodara mereka yang lain sibuk menyelamatkan diri dan berpikir untuk dapat bertahan hidup paling tidak sampai keesokan hari. 

Dan, kenapa pula harus satu negara Jerman saja yang menanggung kebanyakan pengungsi. Kemana negara Eropa lainnya? Duh, tambah gatal kalau mikirin hal seperti ini.

Jadi, perlu tidak ada kambing hitam? Rasanya untuk saya yang perlu disalahkan adalah perangnya lah. Kalau tidak ada perang, tentu tidak ada rasa ketakutan terusir dari tanah kelahiran sendiri. Terus siapa yang diuntungkan dari perang ini? Waduuh, kalau sudah masuk ranah konspirasi teori ini, ga abis satu posting ngomongnya. Saya cuma bisa menulis di blog sendiri, agar otak yang gatal ini bisa sedikit tergaruk.

May everyone live in peace and prosperity.

April 29, 2015

Cangkul, cangkul, Mari Berkebun




Sebagai bagian dari pelajaran sekolah, siswa Grup 5 di sekolah si Mas mendapat ilmu berkebun n bercocok tanam. Tsaaah, pake ilmu segala. Tapi ya bener loh, bukan hanya asal nanam juga tapi ada cara-caranya. Dan, pelajarannya bukan teori di dalam kelas, tapi langsung praktek di kebun. Seru juga loh.

Acara berkebun ini untuk kelas si Mas diadakan tiap hari Rabu pagi. Diharapkan seluruh siswa sudah siap di kelas sebelum bel berbunyi, sehingga tepat 8.45, diiringi bel sekolah, mereka dapat berangkat menuju kebun sekolah. Kebun yang jaraknya sekitar 10 menit jalan kaki itu, ternyata bukan milik sekolah tapi milik gemeente (pemkot), sehingga tiap anak wajib membayar 20 euro untuk kegiatan ini. Selain untuk penyewaan tanah, juga untuk membeli bibit dll.


Saat baru datang, rombongan anak-anak masuk ke semacam rumah kebun, tempat penjaga kebun yang juga akan menjadi pemandu berkebun. Di ruangan sebesar aula kecil itu, pertama-tama, siswa dijelaskan tentang rencana kegiatan hari itu. Selain itu dijelaskan pula tentang info2 seputar bertanam. Di awal musim, saat pertama mereka datang, para siswa ini mendapat jadwal tanam, yaitu apa2 saja yang akan tiap minggu berturutan dari awal hingga akhir. Kebetulan hari ini, mereka akan bertanam radish dan lobak. Info hari ini berkisar tentang tanaman rumput pengganggu, yang harus dibersihkan agar tumbuhan tumbuh sehat.


April 28, 2015

First Mobile Posting

Mau coba mobile posting ah. Sering banget pengen nulis status pribadi yg mau dishare, tapi di BB nyambungnya ke FB Le Carrousel. Kurang pas. So, moga2 berhasil.

Bismillaah.


---
Verstuurd met mijn BlackestBerry

April 21, 2015

KLEPON - Indonesische Kleefrijstballetjes

Ceritanya kemarin si Mas ada tugas presentasi atau spreekbeurt di sekolah. Sebenarnya sih tugasnya dari sebulan lebih yang lalu. Tapi masak baru persiapan less than 2 weeks. Alamaak. Presentasi tentang Indonesia, akhirnya dia presentasi tentang hal-hal yang ia ingat dan pernah tau, biar gampang ceritanya. Terus aku iseng, mas, bikinin traktatie (traktiran) ya. Klepon kan enak. Dia setuju, eh, ternyata katanya pada suka. Jadilah disuruh buat resepnya. Bahasa Belandaku masih ngaco sih, jadi comot dari website orang lain. Cuma kok ga pas dengan resepku, jadi yah akhirnya bikin resep sendiri deh. Jadi yang bisa berbahasa belanda, maapkeeeuuun... kalo ada yang ngaco-ngaco bahasanya. Moga2 temen2nya si mas ga bingung baca resep dari moedernya si mas hahahah....

-----------------
Zin in iets makkelijk te maken voor een kleine hapje? Dan moet je dit proberen. 


KLEPON (KLEEFRIJSTBALLETJES)



Klepon is een zoet, Indonesische hapje, gemaakt van onder andere kokos en bruine palmsuiker (goela  djawa).

IngrediĆ«nten:                        

150 gram ketanmeel (kleefrijstmeel – glutinous rice flour)
150 ml warme water
Gula djawa (geharde, bruine palmsuiker in schijven)
Een paar druppels groene kleurstof (zit in een flesje en is gewoon te koop bij de toko)
100 gram geraspte, gedroogde kokos
Water en een beetje zout

Voorbereiding:

In een rijststomer 100 gram geraspte kokos met een snufje zout even warm maken. Heb je geen rijststomer, gewoon doe de kokos in een zeef en giet er warm water over en knijp de kokos goed uit meng met een snufje zout en bewaar op een bord.



April 13, 2015

Liburan Santai ala Vakantiepark Belanda

Let's travel
 Dalam urusan traveling, masih keinget banget "sindiran" seorang temen Jerman waktu dulu ambil short break libur sebelum harus summer internship.
"So, today you will visit me in Dusseldorf?"
"Yes, I think so, but it will be tight. I will go from Duisburg, then Dusseldorf, Koln, then Bonn, then return again to Duisburg. Maybe we can meet during lunch time?
"Whaaat? Three cities in one day? Vica... You travel like a Japanese..."
"Owh Really? How do you think I suppose to travel then?"
"Enjoy one city at a time...Tomorrow then come here?
"Can not. Tomorrow I'll go to Berlin"
Eeerr.....

Duuh, gimana yaaa.. Dia kan orang lokal gitu looh. Sementara saya berpikir waktu itu ga akan tinggal lagi di Eropa. Jadi dimanfaatkan dong kesempetan jalan-jalan. Apalagi transportasi gampang banget. Kalau saya di Indonesia juga kalau pergi ke satu kota ga akan lah satu hari berkunjung ke beberapa kota sekaligus.

Sampai akhirnya datang juga kok kesempatan itu, yaitu kesempatan untuk enjoy one city at a time. Dan ternyata memang lebih asyik. Kesempatan itu masih pada saat kuliah juga yaitu ke Praha selama 5 hari termasuk perjalanan dengan kereta (kurang lamaa) dan ke Paris selama 4 hari. Full cuma menikmati menyusuri kota-kota cantik itu.

Intip Praha (di Oldtown Square)
Nah, terakhir saat voorjaarsvakantie alias spring vacation di akhir Februari kemarin (eeen, baru ditulis sekarang??? ckckckck...), ngerasain lagi liburan sebagai orang lokal. Hanya saja kali ini dengan krucils... Yah kalau dengan krucil sudah tau deh, ga bisa dibawa keliling menyusuri kota. Akhirnya aku mencoba mencari-cari bentuk liburan yang lain. Sebenarnya sih ini modus aja.

Kebetulan suami akan tugas ke Indonesia, jadi waktunya jualan dong. Jadilah saya mencari hotel murah di sekitar FO di Jerman. WAduuh, ga ada yang murah yaa. Sampai saya direfer teman ke website travelbird.nl. Dari website tersebut memang banyak promosi berupa paket liburan. Ada beberapa tempat yang menarik salah satunya sebuah vakantiehuis (vacation house) provider di Belanda bernama roompot.nl. Menarik karena tempatnya tidak jauh dari FO di Belanda hehehe dan harga cukup atraktif karena hitungannya per unit yang disewa, bukan per kepala. Sementara kalau memesan dari travelbird, kita dikenakan charge per kepala.

March 28, 2015

Ngerasain juga BYAAAR PET di luar Indonesia

SUTET di Diemen ( photo credit)

Tadi pagi, Jumat 27 Maret, sekitar jam 10 kurang, ceritanya saya abis loading cucian ke dalam mesin cuci. Lah kok pas mau diidupin ga bisa? Lampu washing room pun juga ga nyala saat saklar dipencet. Wah, pikir saya ini sakelarnya turun kali yang bagian ruangan atas. Buru-buru deh saya ke bawah, ke kotak sekering. Ternyata, semua saklar naik, alias pada berfungsi. Jangan-jangan mati listrik. Langsung deh googling mencari apakah ada perbaikan atau pemadaman listrik di daerah sekitar rumah. Curiganya sih karena sedang ada pembangunan perluasan pertokoan dekat sini, lampu jadi padam. Suudzon yaak hihihi.. Ternyata ga dapat infonya di internet. Walaah, mana batere BBku ternyata low-bat. Padahal pagi-pagi loh. Seharusnya kan masih fully charged or at least berkurang sedikit. Selain itu, dodolnya gue tuh, karena bingung, bikin status mati listrik di FB Le Carrousel yang friend listnya kebanyakan di Indo dan Jeddah. Padahal maksudnya nanya, kali aja ada teman-teman yang tau beriatany, ada apa gerangan. Alhamdulillaah, ada yang balesin dengan komentar, telpon 123 (pengaduan PLN) aja mba... ihihihi. Maunya siiih :). Tapi tadi baca berita cukup geli juga, karena banyak yang menelpon ke 112 (emergency line). Padahal kalau tidak ada yang urgent atau emergency nomor ini ga boleh dipakai hehehe. Mereka yang menelpon hanya menanyakan ada apa gerangan, kenapa listrik mati. Hadeeeh, ga pernah ngerasain mati lampu 3 hari berturut kayaknya orang-orang itu.

Akhirnya, sambil iseng bawa sampah buat dimasukin ke trash bin di luar, saya keluar rumah n niatnya pergi ke oma sebelah buat tanya-tanya. Tau-tau, saya melihat ibu tetangga sebelahnya lagi keluar dari rumah seberang dan berjalan menuju ke arah deretan rumah kami.

November 11, 2014

Antara Budaya dan Agama

"Kamu tahu ga, J lahirnya kapan", tanya ayah teman sekolah si Mas padaku.
"Emm, Oktober bukan, dia baru aja ultah kan?"
"Yaa, tapi waktu dia lahir...tau ga, itu pas saat 'Suikerfeest' (Pesta Gula - terjemah bebas). It was nice, banyak perempuan muslim datang ke rumah sakit, lalu mendatangi bayi-bayi yang baru lahir dan menyapa kita"
" Wow, nice. Terus... kamu dapet gula, eh permen?"
Si bapak diam sejenak
" Mmm, namanya suikerfeest, tapi bukan berarti kita dapat permen atau gula"

Ternyata kata suamiku, yang namanya suikerfeest itu merujuk kepadaaa... Idul Fitri. Orang Belanda karena kebanyakan tau tentang Islam dari mukimin asal Turki, maka mereka menyebut Idul Fitri sebagai Suikerfeest. Hal ini karena budaya Turki merayakan Idul Fitri salah satunya dengan berbagi makanan manis. Begitu pula aku ingat salah satu teman Turkiku di kelas membagikan permen saat Idul Fitri.

September 8, 2014

Terpaksa Membuat SIM Internasional

Cepeet...cepet...jangan ditunda lagi. Nulis ditunda mulu, basi kali. Ah, biarin, suka-suka yang nulis doong. Tapi kali ini mau nulis sesuatu yang bener-bener gres, baru aja dikerjain. Tadi pagi dikerjainnya, malam langsung masuk ke virtual notes, itu namanya rekor!

Ngapain sih emangnya. Sampe dibela-belain nulis cepet2. Ga ngapa-ngapain siiih, cuma bikin SIM Internasional aja. Berdasar pengalaman hubby waktu bikin SIM internasional sih, bikinnya gampang banget. Cuma datang ke aja ke travel agent besar dan bayar 150-200 SAR di Jeddah atau datang ke kantor ANWB terdekat (asosiasi pengendara di Belanda) dan bayar sekitar 19 EUR (kalau jadi anggota ANWB 18 eur aja), udah deh dapat tuh SIM Internasional. Tapi ini kan Indonesia, tanteee.. birokrasinya tau aja kaaan?

Eh, ternyataaaaa... su'udzon itu memang tidak baik, ya ibu-ibu.

Siang tadi sehabis nganter tumpeng kuning pesanan katering mami, kami (saya, mami dan oom) pergi menuju Jl. MT Haryono. Saat saya masih nanya alamat ke mbah google (koneksi di sini jangan dibahas yaak), tau-tau si mami melihat kantor Lantas di sebelah kiri. Masuklah kami kesana. Tempatnya kueecil banget, mana penuh ga dapet parkir. Tapi kok ga ada tulisan sim internasional yaa. Untung ada seorang mas-mas, yang memberi tahu bahwa pembuatannya di Kantor Ditlantas cawang. Tepatnya kata si mbah Google, Korlantas ini ada di Jl. Letjen MT Haryono Kav 37-38 Jakarta, daerah Cawang. Sebenarnaya kami bisa muter di bawah stasiun Cawang, daerah Pengadegan, tapi karena kelewatan akhirnya terus saja muter ke bawah jembatan Cawang.



sign di dinding depan pintu masuk lobi

August 14, 2014

The Art of Being Born into a Javanese Clan


"Mba Vica maunya dipanggil apa? Mba, Tante, apa Bude?"

Bocah kecil sebaya my lil princess itu bertanya dengan polosnya.

"Yaah, maunya sih Tante. Tapi kalau manggil Tante, nanti kowe diseneni ibumu", jawabku sambil meringis.

"Yo wis, aku celuk Tante yooo?
"Asyiik... iyooo"

Tapi toh tetap saja bocah 5 tahun itu harus memanggilku mbak, karena kalau dirunut, kami ini berada dalam satu garis generasi yang sama di klan keluarga besar mamiku.

Waaah... lucu juga rasanya dipanggil mbak oleh sepupu yang umurnya bahkan sebulan lebih muda dari lil princess. Lucunya lagi, karena urutannya ia adalah sepupuku, maka anak-anakku 'harus' memanggilnya TANTE atau BU Lik.

Ibunya si bocah sendiri lebih muda dariku. Seumur adikku yang kedua pula. Tapi saya harus memanggilnya Tante, karena runutannya, ia adalah adik sepupu Mami. Yah, karena lebih muda, saya panggilnya Mba saja.

Panggilan berdasar urutan generasi ini memang masih kental dipegang oleh klan kami yang kebetulan dulunya belum banyak orang. Eyangku merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Mamiku adalah anak pertama dari lima anak Eyang. Jarak umur mami dengan adik Eyang yang tertua hanya 5 tahun saja.

Jadi alhasil, saya adalah cucu tertua di klan kami. Dan Mas R-ku adalah cicit pertama.

Dulu saja saat kami masih kecil-kecil, saya terbiasa memanggil Eyang Nik adik Eyang Uti  dengan sebutan Bu-De, karena beliau malu masih muda sudah dipanggil Eyang. Dan anak-anak Eyang-eyang yang lain, yang seharusnya saya panggil Oom dan Tante, aku panggil mbak dan mas. Bahkan oom terkecil di angkatan Mami, yaitu putra bungsu Eyang termuda, aku panggil dengan nama saja.

Karena seumur, saya malah lebih akrab dengan tante-tante yang sepupu Mami. Kepada mereka, saya terbiasa memanggil Mba bukan Tante seperti yang seharusnya.

Selama 2 bulan terakhir berlibur di Indonesia ini, alhamdulillaah banyak pertemuan keluarga besar sehingga kisah-kisah awkward tentang panggilan ini banyak bermunculan. Sayang, si empunya blog lagi males nulis. Padahal banyak banget yang mau diceritain. Apalagi di bulan Juli kemarin. Moga2, setelah liburan selesai, semangat nulis kembali lagi setelah dormant 2 bulan. Well, a girl can wish toh? :)

Kembali ke soal panggilan ini, karena saya cucu tertua dan anak-anak adalah cicit pertama, maka dengan sukses semua sepupu Mami pun, menjadi Eyang. Eyang termuda saya mempunyai 4 orang anak yang usianya lebih muda dari saya. Saat mereka menikah, seorang Tante yang masih saya panggil mbak, mewanti-wanti calon istrinya.

"Beneran mau nikah sama dia nih? Dia ini kakek bercucu 2 loo"

Walaah, masak yang kelahiran akhir dekade 80an, sudah punya cucu. Ada-ada saja, tapi bener kan, memang urutannya seperti itu.

Sementara, istri 'oom' saya juga merasa malu dipanggil Eyang seperti dulu almarhum Eyang Nik. Jadi direquest lah anak-anak untuk manggil Bude saja.

Yah, mau bagaimana. Sudah dicetak dari sananya, kalau harus seperti itu. Tidak seperti di keluarga suami yang memanggil sesuai umur. Seorang yang kedudukannya sebenarnya adalah kakak sepupu yang lebih tua, memanggil suamiku yang merupakan cucu tertua dengan sebutan abang. Malah ada seorang tante misan, memanggilnya dengan sebutan abang, karena si tante lebih muda usianya. Lain padang, lain ilalang lah ceritanya.

Jadi, sedikit advis buat yang mau menikah dengan pria/perempuan Jawa, tanya dulu, sudah punya cucu belum....heheheh.... Just kidding ;)

Sibuk ngatur posisi sebelum foto


June 9, 2014

Salah Kaprah Pembeda Tas Ori dengan Tas KW - A Seller's Note


Ready to be shipped
"Sis, ini kok Coach saya made in China. Seperti beli di Mangga Dua. Ini KW ya"

Demikian complain seorang customer via bbm. Walaah, saya minta dia memfotokan isi tasnya. Panik saya, saat foto-foto pertama menunjukkan ada tag putih kain bertuliskan "Made in China, CHINE". Walaupun saya tahu Chine itu adalah bahasa Prancis dari China, tapi setahu saya, di tas Coach tidak ada tag seperti itu. Apalagi kemudian di foto berikutnya lining (kain dalam) tidak menunjukkan authenticity stamp creed dari kulit khas Coach. Saya pun meneruskan komplain ke stockist US bags saya. Ealaah dibilangnya ga semua Coach ada stampnya. Nope. I am pretty sure that all Coach bags after 1990s ada stampnya kecuali untuk barang-barang yang kecil, seperti dompet, clutch, wristlet, atau crossbody yang kecil.


tag yang bikin pusing

Akhirnya saya foto creed stamp dari tas yang ada dan mengirimkannya ke customer untuk menanyakan ada ga yang seperti ini. Ealaah ternyata ada, tapi tadi dia ga fotoin karena katanya yang dia cari tulisan merek di dalam lining. Masih ga ngeh juga saya, apaan itu tulisan dalam lining. Ternyata maksudnya signature. WAduuuh buuu.... Lega deh saya. Saya lalu bilang ke stockist, ternyata ada kok stamp creednya. Jadi biar saya urus sendiri saja ibu yang satu ini.


Eh, ternyata ada kok stampnya. Ini baru asli
Seperti juga yang ini, asli juga
Saya jelaskan bahwa untuk model tersebut memang tidak ada signaturenya dalam lining. Dan tag putih "Made in China" itu ada karena di stampnya tidak ada tulisan handcrafted di negara mana. Kalau ragu silahkan cek saja di google no seri yang ada di creed stampnya. Kalau cocok berarti asli. Eh masih ngotot katanya nomor seri bisa dipalsukan. Akhirnya saya tulis, kalau masih ragu juga, silahkan datangi Coach counter terdekat untuk dicek langsung keaslian tasnya oleh pramuniaga.

Ternyata, dia mengaku temannya di arisan sosialita menuduh tasnya tersebut KW beli di Mangga Dua karena di dalamnya tidak ada signaturenya Coach. Kadung malu, jadi yah dikomplain lah sayah. Eheeem....

Baiklah kalau demikian. Sepertinya saya memang perlu membuat note buat customer and reseller education nih. Dulu sekali waktu di Jeddah saya bawa sekardus Coach, saya kirimkan juga kepada teman-teman saya link tentang bagaimana cara membedakan Coach asli dan replika. Jadi saat mereka membeli pun, mereka bisa membedakan sendiri tanpa saya harus koar-koar "Ini barang ori looh".