September 8, 2014

Terpaksa Membuat SIM Internasional

Cepeet...cepet...jangan ditunda lagi. Nulis ditunda mulu, basi kali. Ah, biarin, suka-suka yang nulis doong. Tapi kali ini mau nulis sesuatu yang bener-bener gres, baru aja dikerjain. Tadi pagi dikerjainnya, malam langsung masuk ke virtual notes, itu namanya rekor!

Ngapain sih emangnya. Sampe dibela-belain nulis cepet2. Ga ngapa-ngapain siiih, cuma bikin SIM Internasional aja. Berdasar pengalaman hubby waktu bikin SIM internasional sih, bikinnya gampang banget. Cuma datang ke aja ke travel agent besar dan bayar 150-200 SAR di Jeddah atau datang ke kantor ANWB terdekat (asosiasi pengendara di Belanda) dan bayar sekitar 19 EUR (kalau jadi anggota ANWB 18 eur aja), udah deh dapat tuh SIM Internasional. Tapi ini kan Indonesia, tanteee.. birokrasinya tau aja kaaan?

Eh, ternyataaaaa... su'udzon itu memang tidak baik, ya ibu-ibu.

Siang tadi sehabis nganter tumpeng kuning pesanan katering mami, kami (saya, mami dan oom) pergi menuju Jl. MT Haryono. Saat saya masih nanya alamat ke mbah google (koneksi di sini jangan dibahas yaak), tau-tau si mami melihat kantor Lantas di sebelah kiri. Masuklah kami kesana. Tempatnya kueecil banget, mana penuh ga dapet parkir. Tapi kok ga ada tulisan sim internasional yaa. Untung ada seorang mas-mas, yang memberi tahu bahwa pembuatannya di Kantor Ditlantas cawang. Tepatnya kata si mbah Google, Korlantas ini ada di Jl. Letjen MT Haryono Kav 37-38 Jakarta, daerah Cawang. Sebenarnaya kami bisa muter di bawah stasiun Cawang, daerah Pengadegan, tapi karena kelewatan akhirnya terus saja muter ke bawah jembatan Cawang.



sign di dinding depan pintu masuk lobi

Ternyata tempatnya luaaas banget. Lapangan parkir maksudnya. Jadi kami leluasa mencari parkir. Saat memasuki kantor pembuatan SIM, kami tidak mendeteksi banyaknya kegiatan. Yah karena kami sampai sekitar pukul 12.30, waktunya para petugas ber-ishoma (istirahat sholat makan). Bapak polisi muda disitu menginformasikan bahwa break selesai pukul 13.00 lalu ia menanyakan apakah semua persyaratan saya sudah lengkap. Saya tunjukkan deh semua barang yang saya bawa, yaitu:
- SIM Asli dan 1 lbr fotokopi
- KTP Asli dan 1 lbr fotokopi
- Pasport asli dan 1 lbr fotokopi
- 3 lbr pasfoto 4x6 latar belakang biru (sebaiknya berbaju resmi)
- 1 lbr materai Rp 6.000,-

Setelah the young cop said, itu semua sudah cukup, sambil nunggu, kami sholat, dan saya cukup tergoda untuk duduk-duduk di mesjid yang besar dan adem AC-nya itu. Tapi yaa, nunggu aja deh di lobi kantor. 

Karena belum jam 1, jadi mesin antrian belum hidup. Akhirnya pas jam 1, rebutan deh sama orang lain. Iiih, bete deeh, mau ke luar negeri kok ga mau antri sih. Kan keliatan sapa yang dateng duluan, tapi pada ga mau ngalah. Padahal, kalau saya ga ngadu ke petugas, mesinnya masih akan terdiam. Ah sudahlah, katanya kan cuma 15 menit prosesnya yang tertera di pemberitahuan di dinding. 

Selain 5 dokumen di atas, tertera pula biayanya Rp 250.000 untuk pembuatan SIM baru dan Rp 225.000 untuk perpanjangan. Hmm, coba liat ah, bener ga 15 menit, atau biayanya segitu. 

Mulai dihitung deh timelinenya sejak saya masuk ruang tunggu berAC dingin itu. Sekitar jam 13.30 kurang, nomor saya dipanggil oleh ibu petugas yang mengingatkan saya sama Mariska Hargitay eh, Det. Olivia Benson di L&O-SVU. Mirip euy, potongan rambutnya sama cara2 jalannya. Yaah polisi gitu looh, walau yg satu asli yang satu cuma akting (eeen... melantur mode on)

Di mejanya, saya dipersilahkan mengisi buku tamu, lalu formulir pendaftaran. Kemudian semua dokumen saya diminta dan yang asli dikembalikan ke saya setelah diperiksa. Pengisian formulir oleh saya dan pemeriksaan dokumen dilakukan secara simultan. Kemudian, setelah selesai pengisian, data dalam formulir diinput, dan saya mengisi lagi suatu blanko yang menanyakan negara dan alamat tinggal di negara tersebut (ga diisi juga ga papa). Selesai isi blanko, paperwork SIM selesai dicetak dan diberikan foto dan ditempeli kopi2 dokumen. Saya pun menandatangani beberapa dokumen dan juga paspor. Setelah itu, saya diberikan kwitansi untuk pembayaran ke bank BRI, yang ternyata cuma merupakan kasir perwakilan yang berada di meja dekat pintu masuk ruangan. Setelah itu saya menunggu tidak sampai 5 menit, ketika saya kemudian difoto dan diambil sidik jarinya. Lalu SIM saya pun selesai dan selain SIM, saya diberikan pula buku dan brosur mekanisme pengambilan SIM.



oleh2 dari pembuatan SIM internasional

Total waktu, around 15 minutes or less, karena jam HP menunjukkan pukul 13.42. Woow, amazing! Nunggu antrian 7 orang sekitar 25 menit (ga termasuk rehat ishoma), selesai proses sampai cetak 15 menit, berlaku selama 3 tahun, menggunakan jasa calo 0 menit. Mantaap. Afwan yaaa bu Olivia, eh bu polisi. Pake suudzon segala.






Mana sebenernya agak ragu juga, fotoku kan ga pake blazer, diterima ga ya? Mungkin karena tertutup scarf, jadi ga perlu pake blazer kali ya? Karena seorang teman yang memberi bocoran tentang pembuatan sim ini, menceritakan waktu dia pergi ke tukang foto di kampung belakang markas korlantas, dia bilang, fotonya diedit supaya terlihat memakai blazer. Yang laki-laki katanya harus pakai dasi. Saya sih ga ngintip2 foto2 bapak2 yang sama2 menunggu ya.

Tapi buat apa sih bikin SIM internasional? Nah ini yang agak nyebelin. Kami sekeluarga seneng travelling (yah lihat-lihat aja deh travel notes saya), kalau saya prefer public transport, hubby seneng nyetir, apalagi kalau di Jerman yang Autobahn (highway)-nya ga ada speed limit. Waktu itu kami sedang travelling ke Wina seperti cerita saya tentang Vienna ini. Nah, perjalanan 7-8 jam, melar jadi 10 jam, karena si driver kecapean. Jadi kita harus lebih sering berhenti buat dia tidur. Sementara this Sleeping Beauty dengan asyiknya mah tidur terus.

Bete rupanya si hubby, dia nyuruh aku bikin SIM internasional. Ealaah... udah enak-enak disupirin kemana-mana di Jeddah n Belanda, males aja disuruh nyetir. Tapi yah daripada nanti kalau jalan-jalan waktu tempuhnya berkurang karena drivernya minta istirahat dulu, kan mendingan gantian nyetir. Iya deh darliiing....

Selain itu, kita berharap menghemat biaya pembuatan SIM di Belanda yang ga kira-kira karena untuk membuat rijbewijs, kita diharuskan les menyetir dulu plus lulus ujian. Teman-teman sih bilang, minimal habis 2000eur buat belajarnya, dan harus ujian paling tidak 2x. Masalahnya bukan hanya di praktek, tapi juga di teori, karena pakai bahasa Belanda... ihiks... udah karatan juga ni bahasa Belandaku.

Jadi moga-moga sih dalam waktu 6 bulan, saya sudah terasah lagi bahasa Belandanya, dan terbiasa menyetir wheel kiri dan jalur kanan. Kemarin-kemarin kan belajarnya dari video tentang trafficnya anak-anak. hihihi...

Dan sementara waktu, coba mikir, nanti bulan Oktober, saat fall vacation seminggu, kemana kita yaaa, kan dah punya yang di gambar di bawah iniiii..

 
eeen...kenapa juga udah berkali-kali diputer, gambarnya masih jungkir balik?


8 comments:

  1. Selamat sim barunya Mba. Cepet banet ya prosesnya. Padahal di awal bikin udah antisipasi bakalan ada cerita tentang kurangnya kualitas pekayanan. Hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Dani., iya cepet beneran kayak di Jeddah n Belanda itu, mana adem n sepi pula. Makasih udah mampir, sorry belum BW2 lagi nii :(

      Delete
  2. Replies
    1. lah malah gampang banget mba Winny... 15 menit kelar. hehehe...

      Delete
  3. kalo bikin nya untuk 2 golongan apa bayar nya ttp 250 atau 500 ya..tx...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kurang tau juga saya. maaf kurang membantu.

      Delete
  4. Di jerman SIM international berlaku atau bisa dipkek berapa lama mbak ?
    Thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. berlaku kok, selama masa SIM berlaku kalau kita kesana hanya sebagai turis ya, bukan tinggal.

      Delete