January 11, 2012

Asian Women are all Workers! (That's what they thought)

Tidak hanya sekali, baik saat sendiri atau bersama temanku sedang bepergian, aku ditegur dengan pertanyaan, "Kerja dimana ?", baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Inggris. Baik itu oleh supir taxi, penjaga toko bahkan pegawai administrasi rumah sakit dan susternya.

Tidak akan menjadi masalah kalau nadanya datar dengan maksud hanya sebagai ice breaker, yang mengungkapkan bahwa si penanya sejajar dengan yang ditanya. Namun sayang kebanyakan nada yang aku terima adalah nada merendahkan dan tidak sopan.

Seorang supir taksi bertanya dalam bahasa Arab, "Kerja dimana?". Aku dan temanku sebagai penumpang jelas bingung karena tidak mengerti Kalam Arabi. 

"La, mafi arabi", jawab kami. 
"Mafi Arabi?", dan seketika si supir mengubah ke bahasa Inggris terputus-putus. "Indonesia? Philipino? Why mafi arabi, where do you work?". Nadanya seperti mengira kami berbohong, sambil tersenyum iseng.

"Ooh, Indonesia, we don't work", jawab kami hampir bebarengan. 

"Not work, how come? No arabi?", halah, kok maksa kita bisa bahasa arab dan kerja pula. Dasarnya aku males menghadapi situasi seperti itu, jelas aku diamkan. Tapi temanku berusaha menjelaskan, "No we don't work, we're housewives.". Lalu terdiam sampai tempat tujuan.


Kalau di rumah sakit, susternya lebih ramah dalam bertanya, "Kerja dimana?". Well, of course dari nadanya, aku tahu, dia memang hanya sekedar membuka percakapan.

Perlakuan seperti ini ternyata memang umum diterima oleh kami, para wanita Indonesia bertampang Asia. Dengan begitu banyaknya housemaid dari Indonesia dan Filipina, kebanyakan orang Arab atau non Asia akan  mengira bahwa kami juga housemaid. Bagiku no problem atas dugaan tersebut. Yang menjadi problem adalah cara orang menyapa dan memperlakukanku. Pria kadang suka merasa kecentilan kalau menyapa kami, seperti supir taxi di atas. Atau tiba-tiba ibu-ibu Arab belum apa-apa sudah ketus duluan saat menegurku. Atau bapak-bapak merasa kita gampang diinjak-injak (masalah berlalu lintas bisa jadi satu posting sendiri :p) dan disepelekan.

Disini, aku belajar untuk merubah tampangku yang suka sumringah (apalagi kalau habis gajian) dengan pasang tampang kaku dan tak ramah saat di jalan. Hal yang harus dihindari kalau di Indonesia, agar tidak dianggap sombong. Belajar pula untuk tidak beramah tamah dan menjaga omongan dengan penjaga toko, padahal di Indonesia terbiasa agak merayu si abang dan encik biar dapat harga bagus. Berusaha pula menahan diri untuk tidak mengajak supir taksi ngobrol untuk sekedar mengisi waktu dan sebaliknya berusaha tetap waspada selalu, karena cerita tentang wanita Asia dirampok dan dianiaya di taxi bukanlah sekedar urban legend belaka. Tapi ini untuk supir taksi yang biasa aku setop sendiri di jalan loh. Kebanyakan ibu-ibu Indonesia disini suka memakai taksi supir Indonesia, yang memang lebih terpercaya. Alhamdulillah, kalau pergi dengan membawa anak termasuk lebih aman daripada naik taxi sendirian. Dan jangan pernah coba-coba naik taxi sendirian disini, betapun pedenya kamu.

Dan karena itulah, belum lama ini, aku berlagak sombong saat ditanya seperti itu lagi. 
"Where do you work?"
"I don't work."
"Really you're just at home an not work."
"Yes I'm just at home"
"So you don't work?"
"Well, I do work....Spending my husband's money. Here, in your store!"

Dan terdiamlah dia . Makanya, nanya kok maksain jawaban....

2 comments:

  1. hahaha... geli, bu, bacanya..
    salam kenal, bu Vica. Saya Sonia, newbie nih, di jeddah.
    I'm a housewife too.. kemana2 pada kaget kalau tahu saya ikut suami dan g bekerja.
    Setelah saya bilang "Suami saya engineer.." baru mereka percaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... salam kenal mbaak... ayo ikutan salah satu komunitas disini. Tinggal pilih, tinggal pilih.

      Delete