July 16, 2013

Hemat Bukan Pelit dalam Mengatur Duit

Logo LiveOlive
Seorang sahabatku curhat, "Duit gue bulan ini dah abis nih". Haduuh. Kok bisa? Langsung daripada aku ngomong sampai berbusa cara mengatur keuangan, aku suruh buka postingan lama tentang housewives budgeting. Eh, ngeluh dalam bahasa Inggris. Akhirnya aku sodorkan saja situs LiveOlive yang praktis dan simple, daaan dalam bahasa Indonesia. Teman-temanku menganggapku pandai mengatur keuangan karena backgroundku. Eits... Jangan salaaah. Mengatur keuangan itu ada seninya. Bukan karena kita seorang akuntan, serta merta kita bisa mengatur arus uang bulanan. Kalau senang baca buku atau situs mengenai pengaturan keuangan seperti LiveOlive tentunya akan memudahkan kita mendapat triknya. Makanya supaya ga ketinggalan infonya, jangan lupa:
”Like”  Facebook Fan page atau “Follow” Twitternya,
“Follow”  Google+ LiveOlive dan “Subscribe” channel YouTube MyLiveOlive

Sementara caraku mengatur keuangan sebenarnya sederhana saja. Kubuat budget tiap awal bulan dalam Excel dengan prinsip Belanda Zuinig niet gierig , hemat bukan pelit, lalu be flexible but responsible.

Pertama, aku sisihkan untuk pembayaran investasi yang terbagi dalam dua jenis. Investasi akhirat alias zakat dan investasi dunia dalam bentuk asuransi pendidikan dan asuransi jiwa, emas batangan dan reksadana. Sebagai catatan, asuransi sebenarnya merupakan bagian dari biaya, bukan tabungan. Porsinya sekitar 10% tiap bulan yang kami sisihkan untuk berbagai investasi ini.



Setelah itu barulah pengeluaran utama yang kubagi menjadi pengeluaran tetap dan variabel, yang porsinya mencapai 40-60% dari total penghasilan kami. Dengan status keluarga 4 kepala, pengeluaran bulanan tetap terbanyak adalah untuk sewa rumah dan variabel terbanyak adalah belanja keperluan rumah atau groceries. Trik "catat tiap pengeluaran" di artikel LiveOlive inilah yang pas untuk aktivitas ini. Untuk groceries aku sengaja belanja mingguan, karena lebih terkontrol dibanding belanja harian atau bulanan. Godaannya lebih berat bila harus ke supermarket tiap hari. Bila belanja bulanan, terkadang ada yang suka terlewat atau habis tengah bulan, sehingga tetap harus belanja lagi.

Credit: Stuart Miles

Aku senang belanja mingguan untuk memanfaatkan promosi yang ada di berbagai supermarket. Kebiasaan ini berawal saat dulu memulai berumahtangga di Belanda, ketika tiap minggu pintu kami kebanjiran leaflet promo dan kupon diskon. Dari situlah aku dapat banyak berhemat untuk pembelian groceries. Dan berlanjut sampai saat tinggal di Saudi.

Terakhir tentunya, tabungan. Awalnya, tidak ada yang namanya saving karena kami sibuk membayar hutang sekolah. Namun dengan disiplin mengatur budget, alhamdulillah kami dapat menabung. Mulai dari 5% sampai 20% karena ada peningkatan karir. Karena itu kami pun dapat mudik ke Indonesia setahun sekali atau berlibur ke Eropa yang lebih dekat daripada Indonesia. Kami juga setia memakai satu airline, sehingga kami dapat menabung airmiles dan mendapatkan berbagai fasilitas seperti tiket gratis dan pelayanan biz-class walau kami naik kelas ekonomi.

Belanja ga? Tentu saja! Namun sebagai CFO RT, aku cukup ketat menerapkan aturan belanja. Aku senang barang murah sementara suami senang barang berkualitas. Jadi kami membeli barang branded pada saat sale sehingga murah namun berkualitas. Karena itulah beberapa tahun terakhir, aku mencoba menawarkan barang seperti baju anak, tas, jam, karpet dan kaftan, pokoknya barang yang menarik harga dan kualitasnya secara online di Indonesia. Cara ini dapat membiayai liburan kami selama dua tahun terakhir. Kami tidak perlu banyak membawa riyal, cukup menjual barang dan rupiah untuk liburan pun tersedia.


Belanja barang branded murah? Nabung dan ke factory outlet dong

4 comments:

  1. Setuju babget Mba. Ngatur cashflow keluarga itu seni. Hihihi. Makasih dah sharing. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa kabar Dani. Sama2, makasih dah mampir :)

      Delete
  2. Thanks mbak dapet tambahan ilmuu ini.. :')

    ReplyDelete