Skip to main content

Bunda of Arabia: Launching Plus Workshopnya Gol A Gong

Ketua Panitia Gempa Literasi bersama Gol A Gong dan Tias Tatanka 
Alhamdulillaah, akhirnya setelah sebulan lebih, jadi juga buku Bunda of Arabia dilaunching beneran secara offline tanggal 3 May kemaren. Launchingnya sendiri sih bukan bikin acara sendiri. Maklum penulis pemula semua hehehe. Kebetulan salah satu penulis BoA adalah anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Saudi. Dia ini kebetulan juga aktif di forum penulis di Indonesia. Makanya sudah sering mengorganisir acara jumpa fans (tapi judulnya seminar or workshop hehehe) dengan para penulis Indonesia yang pas lagi umroh disini seperti Asma Nadia, Oki KCB, dan terakhir Gol A Gong.

Terus terang, aku ini orangnya super duper kuper dan jarang baca buku kalau tidak ada di rak buku tante or alm papi or di perpus sekolah waktu SMA (pelit bin kikir buat beli buku. Mendingan beli komik Elex atau Penguin yang murah :p). Makanya maap (huhuhu) aku ga kenal nama-nama yang aku sebutin diatas kecuali Gol A Gong. Walaupun setahuku namanya dulu Gola Gong. Maklum, setelah lepas dari Bobo, dikasih pilihan untuk langganan Gadis atau HAI, aku malah pilih HAI. Abis disana malah gambar cowoknya lebih macho daripada di Gadis yang malah jadi lebih manis. Walaupun sebenernya aku akuin, sampai sekarang pun aku tomboy, dan lebih suka seenaknya aja kalo dressing up. Maka dari majalah Hai itulah, aku kenal nama Gola Gong ini.

Berkat bunda yang kebetulan kenal mas Gola ini, diadakanlah acara Gempa Literasi yaitu, acaranya Gol A Gong selama melanglang ke berbagai negara di Asia. Acaranya tanggal 3 Mei kemaren ini, pas weekend. Alhamdulillaah, panitia dapat pula sumbangan tempat dari KJRI Jeddah. Jadi dipakailah auditorium KJRI. Mana dapat sumbangan makan siang pula dari salah satu kepala konsuler-nya, yaitu Pak Cahyono. Dan akhirnya disempalkanlah pesan sponsor dari ibu ketua panitia, launching buku Bunda of Arabia. Pokoknya harus ada go publicnya secara offline, masak cuma online? Kurang gong :)

Tapi pulang dari situ bukan cuma launching yang aku dapatkan, tetapi juga ilmu menggali tulisan. Membuat dari fakta menjadi fiksi, memberi jiwa pada tulisan, dan terutama cara membuat hal yang suka aku kagumi dari penulis-penulis idolaku, yaitu detail of the story in each line.



Apa saja sih isi acara Gempa Literasi ini? Pertama ada pembukaannya oleh adik-adik yang masih duduk di bangku SMP, tapi saking bongsornya, aku kira mereka sudah SMA. Salah satu dari mereka membacakan ayat-ayat Quran tanpa membaca, alias menghafal. Hebat euy. Lalu ada pembacaan puisinya Helvy Tiana Rosa (kalau ga tau sapa dia, google aja ya. As I said, I'm super duper kuper :().

Pembawa Acara dengan gaya operet

Setelah itu ada juga parade buku, yaitu pameran buku yang diterbitkan oleh FLP Saudi dan buku yang dibawa oleh Mas Gola. Termasuk juga buku BoA dong. Baru deh setelah itu, perwakilan penulis buka cerita. Sayang saat launching ini dari 8 orang hanya hadir 3 orang. Yang satu sudah pindah dari Jeddah, ada satu yang  lagi mudik, yang satu anaknya sakit, yang satu bundanya yang sakit, satu lagi telat dateng :p. Karena sudah lama ga pernah berdiri di depan publik, terus terang deg-degan juga nih. Mana perkiraan awalnya kita bakalan duduk di balik meja. Eh, taunya berdiri dong, karena cuma perkenalan aja. Yang ada akhirnya awkward banget. Demam panggung abis deh. Udah mending ada suara yang bisa keluar akhirnya dari dalam tenggorokan. Karena aku pikir, degupan jantungku suaranya lebih kencang dari suara yang keluar dari mulut. Delapan tahun boow, ga pernah ikutan presentasi lagi. Tapi dari semua ketegangan, alhamdulillaah, launching offline juga. Terimakasih kepada semua penulis Bunda of Arabia atas kerjasamanya. Pada akhirnya semua ikut turun tangan dari pre printing sampai marketing dan distribusi. Selamat ya Bunda.

Introducing BoA (tampang tegang semua ni :p)
Setelah acara "penyiksaan publik", mulailah mas Gong memperkenalkan biografinya. Aku juga dulu ingat Gol  a Gong namanya bukan Gol A Gong. Ternyata ada cerita di baliknya loh. Katanya waktu dulu pertama kali cerpennya dimuat di majalah, dia pulang ke rumah dan berteriak, "Akhirnya gol juga pak", kepada ayahnya. "Alhamdulillah", sahut bapaknya. "Gong ya". Makanya ia memilih nama Gola Gong. A-nya sendiri diambil dari Allah. Karena dia bisa karyanya jadi gol dan menggema bagai gong karena Allah. Dan akhirnya beberapa tahun silam ia ubah penulisan nama Gola menjadi Gol A, untuk menegaskan bahwa dari Allah-lah semua kesuksesannya berasal. Masya Allah.

Mari Memulai Workshop bersama Gol A Gong

Kemudian, masuk ke acara workshop penulisan fiksi dari fakta. Basicnya sama aja, semua tulisan harus ada 5W dan 1 H. Why, Where, When, Who, What dan How. Dan konflik itu perlu dalam penulisan fiksi. Setelah dapat penjelasan konflik itu apa, aku jadi inget, dulu banget pas masih SMA, aku mau buat fiksi yang tenang aja tanpa konflik. Eh, ternyata pas diinget-inget, malah isinya banyak konfliknya :p. Selain itu banyak lagi penjelasannya, mulai dari apa itu alur dan plot dan bagaimana membuatnya. Lalu ada penuturan tentang jenis-jenis cerita yang kira-kira menjual seperti layaknya soap opera. Pokoknya introductionnya beragam sekali. Jadi kalo kapan-kapan ada Gempa Literasi, ikutan ajaah.

Selama penjelasan, kita dikasih 2 lembar kertas A4 kosong. Buat apa? Ternyata kita disuruh praktek menulis buku nih. Pertama, buat judul cerita yang mau kita buat. Judul yang bagus sebaiknya sih ga lebih dari 3 kata. Iya juga ya. Aku inget hampir semua buku pengarang favoritku ga lebih dari 3 kata. My favorite now is Paulo Coelho. Hampir semua bukunya ga lebih dari 3 kata kecuali 1, By the River Piedra, I Sat and Weep. Yang lain? Alchemist, The Zahir, Aleph, The Witch of Portobello, Veronika Wants to Die :). JK. Rowling cuma Harry Potter. Agatha Christie? Apa ya yang panjang judulnya? Jadi intinya. Judul kalo bisa pendek supaya gampang diinget. Harus catchy dan ta papa bombastis. Jadi di halaman pertama kertas yang dilipat separo membentuk buku ini, kita diminta menggambar cover and menulis judul.

Tias Bercerita

Di halaman kedua, disuruh mikir mau nama pena apa. Terserah namanya. Eh, namaku di depan buku BoA dikira mba Tias Tatanka, penulis novel yang juga istri mas Gong, adalah nama pena. Vica Item. Yah, mbak, itu mah nama dari lahir, walaupun bukan nama di akte kelahiran dan paspor :). Setelah itu di halaman 3, membuat sub judul. Kira-kira kalimat apa yang bisa menjelaskan judul yang kita tulis di depan. Misalnya kayak BoA. Bunda of Arabia: Bahagia Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati. Nah kalimat bahagia dst adalah sub judul. Contoh lain. Harry Potter: and the Deathly Hallows.

Di halaman 4, baru deh buat sinopsis. Ceritanya kira-kira mau buat apa. Dibuat aja dalam satu paragraf. Bagi seorang Gola Gong yang menulis sejak aku masih ingusan dan juga penulis profesional dalam arti menulis adalah tempat mencari nafkah, menulis 5 menit sudah bisa menghasilkan satu paragraf yang oke. WAh itu aja sudah membuatku terkagum-kagum. Apalagi pas masuk halaman ke 5 nih. Menulis cerita. Ya, kita diminta menerjemahkan sinopsis menjadi suatu cerita. Ini orang yaaa... Satu kalimat dalam sinopsisnya bisa dibuat menjadi 2 paragraf sendiri. Hanya satu kalimat, dia beri plot yang jelas dalam detail dan cerita. Diberi jiwa dalam hampir tiap kata. Jadi berbeda banget, membaca contoh sinopsis di halaman 4, dengan penggalan cerita yang dia ambil dari kalimat pertama sinopsis di halaman 5.

Peserta serius menyimak

Sementara aku dan banyak peserta lain cukup keteter-teter. Disuruh buat masing-masing halaman dalam waktu masing-masing 5 menit. Pfiiuh. Tapi di akhir kata, Mas Gong juga bilang. Jangan terpaku pada proses seperti ini. Kalau sudah punya cerita, tulis dulu sinopsisnya, baru kalau sudah kepikiran dapat judul, cari judul. Nama juga bukan proses yang singkat. Jadi jangan saklek, "Wah belum dapet judul, ga nulis-nulis deh ni". Ga dong. Bisa dimulai dari mana saja kok. Dan setiap orang punya gaya masing-masing. Tak perlu saling mencontek. Mungkin ada pengaruh menulis dari tiap penulis favorit, tapi cara bertutur pasti akan berbeda.

Salah satu hal penting lagi yang aku dapat adalah cara pemakaian gaya bahasa gaul. Untuk penulisan, bahasa narasi sebaiknya tetap dalam bahasa EYD yang benar. Gaya gaul dibawakan oleh tiap karakternya. Dan terutama sekali aturan titik koma dan tanda baca lain jangan sampai dilanggar. Bikin pusing, tauu!

So, alhamdulillah, hari itu, aku dapat ilmu yang cukup banyak, selain juga nasi bungkus dan snack yang berlimpah :p. Maklum kan penulis amatiran. Beraninya juga cuma di blog sendiri nulisnya. Tapi apa gunanya ilmu kalo ga di terapkan ya. Jadi insya Allah mau coba praktek nih di blog sendiri. Aku mau mencoba mengubah beberapa tulisan di blog ini menjadi fiksi, dengan catatan kalau sempaat :D.

Berikut sedikit foto kegiatan Gempa Literasi. Tak ketinggalan foto peserta bersama pembicara dong. Penting tuuuh....


Foto Penting nih. Foto bareng selebritis :p

Salah satu isi presentasi

Eh, ternyata ada juga acara untuk anak-anak yang dikoordinasi langsung oleh Bunda Tias

Comments

  1. Alhamdulillah,mbak...Launching bukunya berjalan lancar... ^_^
    Mdh2an kedepan makin semangat nulis dan makin banyak juga nulis buku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah...Nyempil dikit May hehehe...
      Makasih doanya yaa...*hugs*

      Delete
  2. *maaf komennya out of the topic*
    Vicaaaaaaaaaaaaaaa, gue kangen lo!

    ReplyDelete
  3. Emy: gapapaaa..... loe kemana ajaah. Jarang update blog n ol di YM (heheh gw juga sih)

    ReplyDelete

Post a Comment