September 13, 2012

Insya ALLAH means If Allah WILL

Pengen liat fresh lavender lagi, Insya Allah
Insya Allah artinya Bila Allah mengijinkan, bukannya memperhalus kata TIDAK. Lama juga aku belajar untuk mengucapkan sambil meresapi artinya. Apalagi kalau di tengah kebanyakan teman Indonesia yang mengatakan Insya Allah sebagai pengganti kata penolakan.

Aku sendiri mungkin baru beberapa tahun terakhir memahami dua patah kata yang mengartikan bahwa kita sepenuhnya menyerahkan rencana yang sudah kita buat kepada Allah. Apalagi aku sudah terbiasa dengan membuat rencana jangka pendek maupun jangka panjang. Sudah terbiasa dengan menetapkan setiap step untuk mencapai objectives tersebut, lengkap dengan alternativesnya. Lalu, bagaimana kalau semua rencana tersebut hilang begitu saja bahkan beserta alternativesnya. Bagaikan aku harus memegang buku baru yang bersih dari segala draft tulisan dan harus mulai menulis lagi dari awal. 

Walaupun tahu bahwa we plan, Allah decides, biasanya rencana yang kubuat  melenceng  tidak jauh dari berbagai macam alternatif dan skenarionya.Itu berlangsung sejak kuliah, yaitu sejak aku sudah tau cara membuat planning dari hasil belajar di AIESEC. Dan enam tahun yang lalu, yaitu saat aku harus pergi ke Saudi, aku bagai harus menebang pohon besar yang buahnya sudah hampir matang dan harus menanam yang baru lagi dari bijinya. Aaargh.... Depressing beneer. If usually I believed that life offer many alternatives, that time I believed life give no options at all.

Insya Allah, I will find another way (ngutip Maher Zain). Dengan coba-coba jualan walaupun cuma saat-saat mudik doang dalam 3 tahun terakhir, lumayan menambal rasa stress. Jualannya soalnya jual barang yang disenengin doang. Jadi hobi aja browsing barang en belajar hal-hal baru.

Itu dari segi besar. Tapi dari segi kecil, tetek bengek basa-basi, aku masih terus berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa Insya Allah artinya bukan menolak secara halus.

Jaman dulu saat seorang teman yang sudah lebih dulu belajar Islam menjawab ajakanku dengan kata Insya Allah, pasti aku sebal dan mendesaknya untuk bilang, Iya. Atau bilang "kamu ga bisa ikutan ya... kenapa". 
Tapi dia kekeuh jawab insya Allah. Dan karena ga datang beneran, bagaimana aku tidak mengasosiasikan Insya Allah dengan kata TIDAK yang halus.

Saat kuliah, hampir sama. Tapi ada teman yang membantuku mengertikan insya Allah-nya seorang teman lain. "Insya Allahnya dia mah beneran, ga kayak elu Vic. " (nyengir)

Sekarang ganti aku yang dipertanyakan orang. Waktu tiket mudik sudah di tangan, dan ada orang yang bertanya kapan berangkat, aku jawab, insya Allah tanggal sekian. Orang akan bertanya, lah emang di tiketnya ga ada tanggal? (nyengir lagi). Karma nih. Jadi ngerti perasaan seorang teman di jaman dahulu kala.
Memang benar tiket sudah di tangan, tapi selama belum sampai dengan selamat di tujuan dengan memakai tiket tersebut, rasanya belum afdhol kalo ga minta Allah mengijinkan perjalananku. 

Mungkin saja kan taunya pada tanggal dan jam yang tersebut di tiketku itu, exit re-entry visaku ternyata expired, sehingga  pas sampai pintu imigrasi, terpaksa harus balik pulang karena visanya tidak valid untuk keluar Saudi. Itu kejadian beneran loh. Empat tahun lalu saat hamil si lil princess. Jadinya, ga jadi berangkat hari itu, dan terpaksa harus bikin exit visa baru dan cari flight baru di tengah arus liburan di Saudi yang kira-kira sama dengan susahnya cari tiket di tengah arus mudik.

Selain itu juga dalam hal janjian. Saat aku bilang berniat datang, tentunya sekarang disertai doa, 
"Insya Allah, gue datang". 
"Yaaah, jangan insya Allah doong Vic. Usahain dateng ya" 
"Lah habis gimana kalo ga insya Allah.Yah emang kalau ga dikasih gimana?

Ya itu juga salah satu masalahku juga, mengubah persepsi orang, terutama teman-teman dekat yang lama tidak bersentuhan langsung denganku, bahwa aku sedang berusaha merubah satu persatu sifatku. Walaupun sifat cepet naik darahku masih susaaah banget berubah (huaaa....hiks. Ga pernah bakalan dapet 100USD kalo ikutan MTV Boiling point deh).

Selain itu juga mengubah persepsi lama dalam diriku, supaya berbaik sangka terhadap orang lain yang bilang Insya Allah. Saat langganan supplier karpetku bilang insya Allah, karpetnya ready besok, aku masih ketar-ketir aja. Maklum, karpet tersebut pesananan orang. Ternyata saat kami kembali besoknya, memang barangya sudah ready. Alhamdulillaah (nyengir lagi dulu ah)

Jadi sekarang ga mau lagi deh, aku sembarangan ngomong insya Allah. Kalau ga bisa, ya bilang ga bisa, daripada mengecewakan di belakangnya. Kalau bisa, ya diusahakan sebisanya untuk memenuhi janji dengan Insya Allah. Atau kalau hendak mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, walaupun itu hari yang sama, tetap minta izin sama Yang punya waktu dan hidup. And, it's eligibile only for something in the future, not in the past. So kalau sesuatu sudah terjadi, ya jangan bilang Insya Allah. Yang sudah terjadi ya berarti memang Masya Allah, Allah berkehendak. 

Sekarang mau coba masukin video Maher Zain kesayangannya para krucils dulu ah. Bisa ga ya. Maklum gaptek hihihi. Bismillaah.


2 comments:

  1. Pengucapan Insyaallah kalau tidak ada niat juga kurang afdol *katanya*, jadi harus hati-hati pula mengucap Insyaallah ^_^

    Aku jarang mengucap Insyaallah .. jika niat kurang sungguh-sungguh ..hehehe... tapi kalau yang satu ini
    insyallah aku ingin terbang ke Dubai. walaupun belum beli tiket tapi aku mau kesana *rencana* hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyess itu salah satu maksudnya. Kl ga niat ya say no. Harus usaha dulu kalo udah bilang insya Allah.
      Aamiin... moga2 cepet2 terbang ke sana yaa Fah. :)

      Delete