April 29, 2015

Cangkul, cangkul, Mari Berkebun




Sebagai bagian dari pelajaran sekolah, siswa Grup 5 di sekolah si Mas mendapat ilmu berkebun n bercocok tanam. Tsaaah, pake ilmu segala. Tapi ya bener loh, bukan hanya asal nanam juga tapi ada cara-caranya. Dan, pelajarannya bukan teori di dalam kelas, tapi langsung praktek di kebun. Seru juga loh.

Acara berkebun ini untuk kelas si Mas diadakan tiap hari Rabu pagi. Diharapkan seluruh siswa sudah siap di kelas sebelum bel berbunyi, sehingga tepat 8.45, diiringi bel sekolah, mereka dapat berangkat menuju kebun sekolah. Kebun yang jaraknya sekitar 10 menit jalan kaki itu, ternyata bukan milik sekolah tapi milik gemeente (pemkot), sehingga tiap anak wajib membayar 20 euro untuk kegiatan ini. Selain untuk penyewaan tanah, juga untuk membeli bibit dll.


Saat baru datang, rombongan anak-anak masuk ke semacam rumah kebun, tempat penjaga kebun yang juga akan menjadi pemandu berkebun. Di ruangan sebesar aula kecil itu, pertama-tama, siswa dijelaskan tentang rencana kegiatan hari itu. Selain itu dijelaskan pula tentang info2 seputar bertanam. Di awal musim, saat pertama mereka datang, para siswa ini mendapat jadwal tanam, yaitu apa2 saja yang akan tiap minggu berturutan dari awal hingga akhir. Kebetulan hari ini, mereka akan bertanam radish dan lobak. Info hari ini berkisar tentang tanaman rumput pengganggu, yang harus dibersihkan agar tumbuhan tumbuh sehat.



Setelah itu, para siswa keluar mengambil peralatan bertanam kemudian menuju ke tengah lapangan kebun. Disana, oleh pemandu, dijelaskan dan ditunjukkan apa yg harus mereka kerjakan. Kemudian barulah mereka bekerja di lahan mereka masing-masing. Hari ini, saya melihat sendiri bagaimana bunga violet ungu dan bawang bombai si mas sudah mulai berbunga dan bertunas. Pertama, anak-anak harus menggemburkan tanahnya agar siap ditanami. Setelah itu, mereka membersihkan tanaman pengganggu dari sekitar tunas bawang mereka.


Selesai penggemburan tanah, kembali mereka berkumpul di salah satu lahan siswa. Disini, pemandu menjelaskan langkah selanjutnya, yaitu menanam bibit. Mulai dari mengukur jarak, membuat lubang, menyirami tanah agar lembab, menaruh bibit sampai menutupnya dengan rata dan padat. Nah, disinilah trickynya. Sebagian anak bisa dengan cepat dan rapi, sebagian lain lambat, sebagian ada yg rapi dan lambat :D. Seru juga melihat mereka bekerja. Dan orang tua yang mengawal, ternyata diharapkan pula utk dapat membantu sedikit-sedikit, selain mengawasi kerja anak-anak.


Dengan berakhirnya proses penanaman bibit, selesai pula jadwal berkebun hari itu. Ditutup dengan menyirami bunga violet, mengembalikan peralatan ke tempatnya dan tentunya mencuci tangan masing-masing. Akhirnya rombongan pun kembali berjalan ke sekolah untuk meneruskan pelajaran.

Menurut jadwal, tugas berkebun ini akan selesai saat mereka di awal grup 6. Saat itulah mereka dapat memanen hasilnya. Yang saya tahu, mereka sudah menanam bawang bombay, violet, wortel dan pumpkin/labu. Yah, kita lihat saja nanti hasilnya saat panen tiba :)

Vioolnya si Mas

6 comments:

  1. mengajarkan anak dekat dan cinta alam salah satunya dengan aktifitas berkebun ya Mak. Saya senang berkebun, pokoknya aktifitas tanam menanam. Tapi anaknya belum 'kena' :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah kebalikan dong ini sama saya. Ibunya ga bisa berkebun, anaknya malah seneng. Mungkin karena bareng2 rame2 sama temen2nya juga kali yaa...
      Mkaasih sudah mampir :D

      Delete
  2. Replies
    1. iyaa.. bikin semangat yang belajar berkebun :D

      Delete
  3. wah pembelajarannya sangat menarik, seru dan pastinya bikin anak-anak gampang memahami learning by doing ya mbak, bukan text book kayak di negara kita....isssh 3x..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Tanty... seru loh. Ibunya aja yang nganterin jadi ikutan belajar hehehe...

      Delete