December 22, 2013

Mama Sejati

Untuk memeriahkan hajatan KEB, sebagai anggota yang masih anak bawang saya ingin mencoba untuk melukiskan cinta tanpa akhir Ibu. Tapi kenapa rasanya agak sulit bagi saya untuk menulis artikel tentang ibu ini ya. Terus terang memang susah bagi saya untuk mengungkapkan inner feeling kepada orang lain. 

Untung dalam persyaratan ditulis seperti ini:

"Bentuk postingan bebas, misalnya artikel, puisi, gambar, foto, video dll, tapi harus karya sendiri & belum pernah dipublikasikan."

Artikel lagi stuck, kemampuan membuat puisi juga sudah pudar, gambar ga bisa buat, foto n video ga tau apa yang bisa dipajang. Mau buat apa loe jadinya?? Ya udah buat DLL aja deh. 
Tapi kok nekat membuat fiksi? Padahal kagok banget kalau buat fiksi, suka maksa en bertele-tele gitu. Yah, dunno, tiba-tiba keluar aja ide itu. Moga-moga aja yang baca bisa nangkap esensi cerita yang ingin saya sampaikan tentang seorang "Mami". As for me, I don't wish to be a perfect mom nor a supermom, I just pray Allah will be pleased to me during my journey raising my kids and hope they will love me back in return.
 
===========================================================

Mama Sejati


Treng..treng..treng... Sayup terdengar suara cempreng kentongan hansip di ujung jalan. Laura mengendap perlahan mendekati daun pintu yang tertutup rapat. Sreek...Jinsnya menyerempet kursi bambu di sebelah pintu dan sebelum ia sempat memegang pegangan pintu, ia bergerak dan terbuka. Laura tersentak, di hadapannya berdiri kakak sulungnya Riana.

"Jam berapa ini Laura?"

Suatu retorika yang tak ingin Laura jawab. Ia pun melewati Riana dengan sedikit menyenggolnya.

"Dengan siapa kamu pergi? Kamu masih SMA, Ra. Masak, pulang hampir subuh begini?"

"Ah, bosen denger Uni sok-sok nasihatin aku. Aku ngantuk", sentak Laura sambil menuju ke kamarnya. Riana mengejarnya. "Dengan siapa kamu pergi, Ra? Jaman begini jangan sembarangan pergi sama laki-laki."

"Sudah uni... Besok saja nanyanya", dan pintu pun tertutup di depan muka Riana yang memandang penuh kecemasan.

***



"Uni cuma tidak ingin kamu sampai terjerumus Laura", suara Riana mengalir dari dapur mendahuluinya yang kemudian muncul membawa masakannya ke meja makan. "Kamu masih 16 tahun, lulus SMA saja belum. Jangan pacaran dulu. Sekolah dulu yang baik".

"Terjerumus apa sih, Un. Maksudnya pacaran kelewatan gitu? Iiih enggak deh", elak Laura. "Aku masih mau jadi dokter, supaya bisa ngerawat Mama".

"Syukurlah kalau itu pikiranmu. Uni pikir Mama terlalu memanjakanmu. Apa-apa dibolehkan".

"Hahahah...Uni cemburu niii", goda Laura sambil memajukan bibir bawahnya. "Pantesan Uni galak banget sama Laura."

"Uni sayang sama Laura, makanya Uni galak"

"Uni ga cuma galak en jutek", potong Laura, cepat. Riana membuka mulut hendak protes namun bibir tipis Laura cepat menyambung,"Tapi, Laura selalu ingat kalau Uni juga yang bantuin aku belajar dari kecil sampai sekarang. Uni yang mandiin Laura pagi-pagi walaupun sibuk mau berangkat kerja. Uni juga 'kan yang sibuk ngejar-ngejar mba Yun kasih makan Laura waktu kecil, sampe sekarang juga masih senang kasih makanan enak-enak gini...", tutur Laura lalu menyendok sarapannya. "Mantaaap deeh, bubur ayamnya Uni. Terima kasih ya, Un."

Riana tersenyum sambil menunduk menyembunyikan matanya yang berair.

"Tadi malam itu, kami agak kemalaman pulangnya dari Bogor. Terus Laura pakai terakhir banget pula diantar Sofi. Soalnya rumah kita paling dekat rumahnya", jelas Laura tanpa diminta. "Maaf yaa, tadi malam jutek. Ngantuk siih. Mana pake dituduh yang aneh-aneh pula."

Tangan Riana mengelus kepala Laura. "Uni juga minta maaf sudah histeris. Uni taunya kamu pergi sama Denis. Terus terang Uni suka agak parno kalau kamu jalan malam-malam sama dia atau teman lelakimu yang lain. Isi kepala pria siapa yang tahu sih."

"Uni jangan terlalu negative thinking gitu sama cowok", tukas Laura. Pandangannya dingin menusuk ke jantung hati Riana. "Maaf Uni, mungkin karena itulah Uni sampai sudah usia kepala 3 begini, masih tidak mau menikah. Apa sih salahnya Bang Tyas sampai Uni tolak dia terus."

"Itu bukan urusanmu, Laura", sentak Riana. "Yang penting kamu sekolah dulu sampai selesai, Uni yang akan tanggung semua biaya sekolahmu". Ia pun lalu berdiri meninggalkan meja makan dan Laura yang tercenung.

***

"Ana...", panggil Mama lembut. "Mama senang Laura berpikiran seperti itu tentang kamu"

Riana membalikkan badan. Di hadapannya sosok Mama berjalan mendekatinya. "Mama senang yang dia ingat banyak mengurusnya adalah kamu. Tapi semua sikapnya padamu tetap sikap seorang adik kepada kakaknya, Ana".

Riana terdiam kaku. Mama semakin mendekatinya dan bibirnya mendekati telinga Riana, "Sampai kapan kamu mau merahasiakannya?"

Ia tahu, Mama pasti akan menanyakan itu lagi padanya. "Tidak sekarang Ma. Belum saatnya."

***

Riana tak tahu perasaan apa yang ada di hatinya. Semua campur aduk saat selesai membaca surat yang diberikan Laura kepadanya. Bangga, sedih, benih rindu semua bersatu padu.

"Jauh ya Ra. Ga bisa minta tukar penempatan", tanya Riana disambut tawa geli Laura.

"Hihihi.. itu mah untung Uni, aku dapat Kendari yang kota besar. Lah si Keisy dapat di Sangata...Katanya masih jauh banget dari bandara di Samarinda".


Riana masih terduduk kaku. Ditatapnya Laura dalam-dalam. Mulutnya terbuka sedikit seperti hendak berucap, namun helaan nafas yang terdengar dengan berat.

"Itu Mama aja ga keberatan, aku ditempatin di Sulawesi. Masak malah Uni yang pusing sampai minta tukar penempatan segala", sambung Laura sambil memandang Mama yang duduk di sebelah Riana.

Riana melirik Mama yang tegak duduk di sisinya itu. Dirasakannya mata Mama mulai menyorot tajam, mendesaknya memenuhi keinginannya. Riana mengalihkan kembali pandangannya ke Laura.
 
"Laura...Aku senang kau sudah menyelesaikan sekolahmu dan meraih cita-citamu...", ujar Riana, lalu terdiam. Lehernya tercekat. Ia lalu berdiri, berpindah duduk di sisi Laura.

"Alhamdulillaah... Laura terima kasih sekali sama Uni Ana yang...", kalimat Laura menggantung di lidahnya saat jari telunjuk Riana mengisyaratkannya untuk diam.

"Semoga Laura bisa meneruskan residensi dengan baik dan menjadi ahli bedah yang kamu inginkan"

"Kenapa Uni bicara seperti ini? Ada apa sih", pikiran Laura tiba-tiba terisi kelebatan pikiran buruk. "Kenapa Uni yang tidak senang aku pergi jauh. Mama saja membolehkan... Iya kan Ma?"

"Kau sudah berjanji pada Mama, Ana", wanita tua yang cantik itu mulai buka suara. Ketegasan dalam suaranya seperti tak menggubris konfirmasi Laura, tidak pula pandangan Riana yang penuh kebimbangan, berusaha menawar waktu kepadanya.

Pandangan Laura beralih kembali ke Riana. Kakak sulungnya itu mulai memegang tangannya.

"Laura... Jangan panggil mama dengan sebutan Mama. Ia bukan mamamu", lirih Riana berkata. Namun, jelas Laura mendengarnya. Ia bergantian memandang tak percaya pada kedua wanita di hadapannya.

"Benar Ma? Laura bukan anak Mama", tanya Laura, lehernya tercekat. Anggukan tegas wanita yang 25 tahun dipanggilnya Mama itu meruntuhkan benteng air matanya. Sambungnya sambil terisak, "Lalu bolehkah Laura tahu, siapa ibu Laura yang sebenarnya?"

"Mama memang bukan mamamu, sayang. Mama adalah... nenekmu", Riana bergetar saat memecahkan rahasia yang selama ini dia genggam. "Dua puluh lima tahun yang lalu, aku berbuat kesalahan dengan membodohi diriku sendiri. Anak SMA ingusan yang beranggapan adanya cinta sejati, namun ternyata hanya kudapat nafsu belaka."

"Namun Laura, kau adalah bayi cantik yang sudah merebut hatiku. Kau adalah anugrah yang tidak bisa kusia-siakan, karena itu aku meminta mama yang mengambilmu. Aku tak mau berpisah denganmu. Dan aku beruntung memiliki Mama seperti Nenek yang tegar mendampingi di tiap langkahku. Supaya orang tak ada yang tahu, maka kita pindah ke kota ini. Walalu Nenekmu ini  sudah sejak dulu menyuruhku untuk mengungkapkan ini padamu, aku menunggu saat yang tepat karena aku takut kenyataan akan membuat konsentrasimu mengejar cita-cita menjadi buyar."


Laura terpana dan berbagai ingatan kembali padanya bagaikan sirkuit foto berputar di dalam kepalanya. Siapa yang menemaninya tidur, siapa yang menenangkannya saat menangis dalam keadaan apapun, siapa yang memberikannya nasihat tanpa aksen menggurui, siapa yang menemaninya belajar menghadapi ujian, memberinya oleh-oleh setiap pulang kerja, membiayai sekolahnya, mendengarkan cerita-ceritanya, merawat sakitnya, semua yang seharusnya seorang ibu lakukan, jarang dilakukan oleh Mama, melainkan oleh Uni Ana. Hanya ia, yang mendapat perhatian lebih dari Riana, bukan Santi ataupun Edo, adik-adiknya yang lain.

Perhatian Uni Ana hanya terpecah sejenak darinya saat 3 tahun lalu ia melahirkan Arman, keponakannya yang lucu, yang kini ia tahu adalah adiknya sendiri. Tetapi, rasanya tak lekang perhatian Uni padanya, terutama saat ia sibuk menyelesaikan kuliahnya.

"Mama ikhlas kamu pergi menjalankan tugas pertamamu, Laura. Namun sebelum kamu pergi, kamu berhak mengetahui hal yang sebenarnya. Doa mama selalu terselip untukmu agar tak terulang kisah pedih mama."

Bulir airmata Laura menetes mendengar pengakuan Uninya yang kini jelas menyebut dirinya sebagai Mama.

Saat ia membutuhkan teman bicara, Uni Ana yang ia cari. Walaupun dirasakannya kasih sayang "Mama" yang begitu memanjakannya, namun entah mengapa ia merasakan kehangatan seorang mama pada Uni Ana. Tidak pada "Mama" yang selalu membolehkannya melakukan apa saja tanpa daya, seperti halnya "Mama" membolehkan apa saja pada Arman. Pertengkaran dan pemberontakan dilakukannya pada Uni Ana yang diakuinya sebenarnya membuatnya belajar untuk dapat memilih yang benar di antara yang salah.

Teringat rekaman pembelaan Mama pada sang Uni, setiap kali Laura minta diselamatkan dari mulut cerewet Uni Ana, "Dengarkan Unimu, Nak. Dia lebih tahu yang terbaik untuk kamu."

Ia menepiskan tangan Riana dari tangannya. Riana menatapnya penuh kecemasan. Sedetik kemudian, Laura memeluknya erat. 

"Somehow, I always know, Ma", bisiknya pada Ana. "Aku selalu mengagumi kekuatanmu mengurus kami semua. Mulai dari Nenek dan aku, lalu Bang Sena dan Arman. Rasanya...Perasaanku selalu tahu, Uni adalah Mama sejatiku. Laura sayang Mama berdua."

=======

No comments:

Post a Comment