February 22, 2012

Tak Selera Makan Sambal, Bukan Salah Bunda Mengandung

Ground Beef Wellington with Grilled Veggies

Benar bukan salah mamiku mengandung, tapi salah dia jago masak. Sejak dulu mamiku yang pernah jadi chef di hotel bintang lima ini memang jago masak. Kalau tidak ya tidak jadi profesi dong. Alhamdulillah semua section yang pernah ia pegang selalu sukses. Dari spesialisasinya di section masakan Indonesia, ke section kafetaria yang menyediakan berbagai macam makanan, juga dari belajar masakan China, Jepang dan barat.




Jajan-jajan
Hampir setiap hari kami disediakan makanan dari berbagai macam daerah dan negara. Apalagi kalau mami mau mencoba suatu resep. Kamilah kelinci percobaannya. Lidahku dan adik2ku, terutama yang nomor dua sudah amat terbiasa bertualang berbagai rasa. Adik bungsuku karena telat banget lahirnya (anak bonus, istilahnya), yah tidak seperti kami berdua yang lebih lama jam terbangnya. Bahkan, mami dapat mencicipi rasa makanan lalu  membuatnya sendiri. Saking seringnya beliau coba-coba masak makanan yang baru kami rasakan di restoran, sampai2 adikku protes begini, "Mami jangan diicip2 terus dong makanannya. Aku kan juga mau makan jajan di luar.".. Bahkan saat Hoka-hoka bento baru keluar pun, ga berapa lama mami udah mencoba bikin chicken katsunya. Ga heran adikku protes kan hehehe.

Jadinya tentu saja aku dapat mentaste makanan enak atau tidak, dan daftar makanan favorit pun terbentuk.
Walaupun untuk tasting, aku lebih suka asin, dan yang menurut orang lain enak, mungkin bagiku masih bisa diimprove. Bahkan masakanku pun bisa kurasakan, enak atau tidaknya. Ga narsis daah. Karena lidahku punya standard yang terbentuk sejak umur 8 tahun, saat aku sudah mulai merasakan nikmatnya makan (hehehe sama seperti Rafi, waktu kecil aku susah banget makan :p). Dan standar enaknya si mami itu tinggiii ajaaah. Makanya, masakannya laku dimana-mana, alhamdulillah. 

So, seperti yang aku sering bilang, aku tidak takut makan sambal, tetapi aku TIDAK SUKA sambal. Merusak seleraku, bahkan dari baunya saja. Sama seperti durian. Kedua makanan itu pernah aku coba semua. Bahkan sempat keranjingan buka2 duren. Tapi ternyata tidak cocok lama2 di taste budku. Hanya beberapa makanan memang harus pedas menurutku, seperti sardin, tomyum, ikan bakar manado dan nasi goreng. Yang lain, males ajaah pake sambal.

Catat, tak semua orang Indonesia harus makan sambal atau nasi yaa. Aku sudah terbiasa juga perut diisi stup makaroni atau lasagna dan pasta lainnya tanpa harus tergantung nasi apalagi sambal. Stup makaroni bahkan menjadi menu wajib sarapan sehabis pulang solat Idul Fitri. Jadi kalau lebaran, selain opor ketupat dan teman-temannya, menu yang tidak Indonesiawi ini nyempil di meja makan, dan selalu ditunggu-tunggu.

Garlic Bread with Cheese
Tapi aku pikir orang menyangkaku sombong karena suka makanan barat. Mentang-mentang pernah tinggal di Eropa gituh, jadi makannya western mulu. Hadooh. Enggak deeeh. Lidah sudah terbentuk untuk berani mencoba apa saja. Dan kebetulan western food ada di top favorit listku sejak lama. Malah untung saja, salah satu masakan favoritku adalah masakan Eropa, jadi bisa survive tinggal disana. Ga perlu repot cari nasi. Apalagi temenan sama orang Italy. Malah jadi dapat macam2 resep pasta. Sedaaap....

Tapi aku juga tak akan bilang kalau aku tak suka suatu makanan yang telah susah payah dimasak orang. Kalau tidak suka, ya tinggalkan saja. Atau kalau masih coba, ambil dikit. Ga suka, tinggalkan,kalau suka, tambah lagi. Ceritanya buat posting ini sebenernya karena agak bete aja, ketika kemarin ada acara di rumah, aku mendengar seseorang bicara begini, "Wah yang mantap tuh masakan Padangnya ibu A. Mau lagi dong, bu."

Mendengarnya cukup membuat aku kesal n pengen curhat disini. Gimana ya. Ga bisa nunggu untuk ngomong di luar rumah ya, dimana suaranya ga kedengeran  yang udah capek2 masak. Kebetulan tanganku lagi sibuk. Jadi pas keluar lagi, aku ga tau sapa yang ngomong. Mungkin maksudnya adalah memuji masakan si Ibu A yang sepertinya adalah teman bicaranya. Tapi kan ga enak didengar pas lagi makan di tempat yang satu. Rasanya masakan si tuan rumah ga enak en ga berharga dibanding makanan ibu2 yang lain. Enak ga enak, selera atau tidak, memang urusan masing-masing. Tetapi alangkah baiknya kalau bisa menjaga perasaan orang lain. When you can't say anything good, keep silent.

Buffalo Wings
Emang apaan sih yang kamu bikin, tanya mami saat kucurhatin. Aku jawab, ground beef wellington with mushroom sauce, buffalo wings, sama sup jagung. Maksudnya, supaya beda gitu. Ga makanan Indo melulu. Tapi ternyata salah strategi, orang disini masih always longing Indonesian food.

Padahal makanan yang kusediakan itu, biasanya kalau di rumah pasti jadi rebutan. Apalagi beef wellington yang kalau makan cuma nunggu pas mami bawa pulang dari kantornya. Yah memang, lain ladang lain belalang, everyone has his/her own cup of tea, selera orang berbeda-beda. Tapi, bukan berarti jadinya harus merendahkan cita rasa orang lain dong dengan "make someone look bad".  Aku sudah berusaha memperkenalkan other cuisine than Indonesian looh, hargai dikit doong, bukan malah bilang ta suka dengan cara halus seperti itu. Jadi pengen tau sapa yang ngomong. Kalau saja, aku keluar saat itu juga, aku pasti akan bilang begini, "Yah sekali-kali  masakan non Indonesia dong, masak tiap hari masakan Indonesia. Diversifikasi itu perlu."

Ya sudahlah, kalau dighibah kan pahalanya lari ke aku.

Anyway, apa sih top ten favorit dishes-ku. Ini dia:

1. Baksooooo - ga pake sambel. Enak pake cuka dikit ama kecap. Suegeer
2. Sate, Ayam or Kambing - yuuuummm
3. Tenderloin steak, terutama pake mushroom sauce
4. Bakmi n pangsit GM - tiada duanyaaaa....
5. Pempek palembang
6 .Nasi Liwet kumplit
7. Soto Mie....
8. Spaghetti Bolognaise.
9. Beef Yakiniku
10. Ribs ala Makasar (Tata Ribs itu looh)
11. Bubur Ayam tanpa kuah kuning
12. Martabak asin n manis
13. Soto Betawi
14. Sushi
15. Ikan Bakar Menado

Lah kok melar jadi 15. Hehehe gapapalah, keterusan dikit. Keliatan banget ga sih meat lovernya... 

So, beragam kaan. Bukannya aku sombong senengannya makan western food. Selain cara masak yang gampang dan praktis, dia juga cocok di lidahku. Ga tau deh lidahmu. Tapi yang terpenting adalah menjaga lidah kita si harimau kita.

5 comments:

  1. ahhhh lapar.. lapar.. laparrrrrrrr
    buahahahah sialan lo Vic, ngomongin makanan jadi ngeces.

    wahhh enak yah punya mami jago masak. mantap. nanti mau ah tester katering mamimu, siapa tau cocok buat my big day nanti, kalau Si Pangeran Berkuda nongol dan langsung ngajakin kewong ahahhaha.

    ah setuju banget. soal taste, itu subjektif. enak atau nggak enak, asin atau tawar, dan lain-lain, itu subjektif. dan ga ada yang lebih baik satu sama lain. makanya kalau mo recommend makanan, gw lebih sering bilang "semoga cocok dengan selera kamu ya" ketimbang "sumpahhhh enak banget, nggak nyesel deh."

    lalu-lalu, dari semua list lo itu, gw suka semua booo! secara perut gw karung:p dan rasa buat gw cuma enak dan sangat enak. ahahahaa.

    eh, eh, bakmi dan pangsit goreng GM emang tiada tara yahhh...

    ReplyDelete
  2. wkwkwkw....cewek tuh emang imppiannya bisa makan segala tanpa harus gemuk. Jadi ga heran yg diomongin pun makanan doang hahahah....

    Boleh tuh tester. Kali aja kantor loe perlu buat training2 :)

    ReplyDelete
  3. Haduh..haduh...ternyata disini ngomongin makanan toh!

    Gara2 nonton masterchef dan ngeliat makanan yang delicious itu, pikiranku jadi terbuka dan pengen juga belajar masak makanan eropa, tapi krn dominan pake oven dan aku gak punya oven, terpaksa dipending dulu deh...

    List yang pertama, bakso bening dengan kecap sedikit, setujuuuuuhhh!

    ReplyDelete
  4. Mami Vica, .makanan Eropa gak selalu pakai Oven, dan relative lebih mudah dr masakan Ind, praktis lada garam, lain masakan Ind dengan berbagai macam bumbu pakai di ulek,',,

    ReplyDelete
  5. Hehehe udah direply duluan sama guest star of the story.
    Mba Mayya, resep2ku semua mah yg gampang2 ala Eropa, ga perlu pake panggang. Nanti deh posting lg yg laen.

    ReplyDelete