November 22, 2013

Penghuni Misterius Rumah Kami



A'udzubillaahhi minnasyaitoon ni rojiiim. Bismillaaahirrahmaanirrohiim.

Sebenarnya saya sudah gatal ingin menulis tentang cerita ini sejak minggu lalu yaitu tepat setelah kejadiannya berlangsung. Tetapi, suasana misterius yang masih terasa kental mengurungkan niat saya, walaupun lebih tepat dibilang masih deg-degan was-was kalau mengingatnya. Apalagi biasanya saya mulai memegang si Merah, laptop kesayanganku, saat selesai solat Magrib.

Memiliki papi (alm) yang memiliki indera keenam, membuat saya sudah terbiasa mendengar cerita tentang makhluk dari dunia lain. Apalagi sewaktu kuliah, saya pernah membaca buku "Dialog dengan jin  muslim" yang membuat saya tidak bisa tidur sampai bermalam-malam lamanya. Papi memang jarang menceritakan kalau beliau baru melihat sesuatu kalau tidak ditanya. Mungkin benar maksudnya karena beliau tidak mau menakuti anak-anaknya. Saya pun mempercayai keberadaan makhluk dunia lain ini karena jelas tertera dalam Al Quran. Bukan hanya berupa syaitan namun juga jin, pokoknya semua makhluk yang berasal dari api neraka (naar). Keberadaannya kebanyakan untuk mengganggu manusia anak-anak Adam untuk mengikuti mereka. Maka saya yang lebih banyak bermain logika tetap saja percaya tentang hantu, jin dan sebangsanya, karena mereka tertera dalam Al Quran. Kalau cuma dari Papi saya atau dari film dan orang lain, mungkin saya akan bersikap skeptis.

Hal inilah yang membuat saya tidak terlalu terkejut atas kejadian yang menimpan si Mas waktu dia masih kecil, seperti yang saya ceritakan di kisah Sixth Sense ala si Mas. Juga saat kemudian ia pernah terlonjak kaget saat sedang asyik bermain di kamar menemani saya yang sedang menyetrika. Ia tiba-tiba saya meloncat seperti orang dikagetkan seseorang lalu pergi memeluk kaki saya. Sambil berusaha menenangkan hati sendiri, saya pun berpikir, mungkin "si dia" tampangnya tidak terlalu menakutkan dan hanya ingin iseng mengajak bermain. Makanya si Mas cuma kaget saja, tidak sampai teriak-teriak seperti dulu. Setelah bertaawuz dengan berbisik, pelan saya berkata padanya, "Ga papa ya Mas. Itu cuma mau ajak main aja. Kalau ga mau ya udah sama mommy sini ya."
Walaupun berusaha tenang, hati saya berdebar kencang tak beraturan.



Kejadian minggu lalu hampir sama dengan yang pernah saya alami sewaktu masih tinggal di apartment di Jeddah. Kali ini terjadi di rumah mami saya. Duapuluh delapan tahun tinggal disana, saya sudah terbiasa dengan cerita-cerita aneh tentang pohon cempaka/kantil besar yang ada di depan rumah. Yang katanya ada wanita cantik tinggal di dalamnya, lalu seringkali banyak bunga yang sepertinya bekas sajen ditaruh di depan pagar rumah sampai saya dan adik saya pun pernah "ditemani" saat malam-malam main komputer di ruang atas. Saya yang memang kurang peka, merasa biasa saja saat angin dingin terasa menelusuri leher dan punggung saya. Di sebelah saya, jendela yang menghadap ke pohon cempaka itu memang terbuka. Lalu dengan cuek saya menutup jendela lalu meneruskan bermain game sampai ngantuk lalu digantikan oleh adik saya. (hehehe ketahuan gamernya). Keesokan harinya, ganti adik saya main PC duluan, dan saya menunggu giliran sambil menonton TV. Tiba-tiba dia lari dari atas seperti terbirit-birit.

"Mbak..mbaak... ada angin dingiin banget tadi mbaak" katanya bergidik.
"Aah, angin itu. Kamu belum tutup jendelanya kali. Kemaren mba Vica juga gitu", jawabku. "Udah maennya? Gantian yaaa..."
"Enggak kok.. Jendelanya ditutup, dan dinginnya rasanya bukan angin", timpalnya sambil mulai menuju kamar papi-mami.
"Haaah?!!!" dan aku pun terlonjak dan ikutan berlari di belakangnya dan ikut menggedor pintu kamar tidur.
Alhasil, seorang pekerja kantoran dan anak kuliahan malam itu umpel-umpelan tidur di kamar ortunya gara-gara ketakutan sama "si angin dingin". It was about 12-13 years ago.

Minggu lalu itu, mami kehilangan handphonenya pada hari Sabtu malam. Sepanjang hari Minggu, beliau dan pasukannya mencari kemana-mana. Semua teori dikeluarkan untuk mengingat kemana perginya si hp jadul yang memuat berbagai nomor penting seperti tukang sayur, tukang ayam, sekretaris kantor dan para suplier serta pelanggan katering lainnya (itu penting loh buat pengusaha katering). Akhirnya malam itu dengan sedih, mami bilang berusaha merelakan si hp, walaupun rasanya kesal sekali. Kami pun tidur dengan mengambil selimut kami masing-masing yang terletak di bawah kaki kami.

Saat subuh tiba, saya solat seperti biasa, lalu mendengar tiba-tiba mami yang sedang tidur-tiduran di kasur yang letaknya tepat di sebelah saya solat, membuka pintu. Selesai solat, ternyata ia sudah di atas tempat tidur lagi. Saya pun hendak kembali melanjutkan tidur, ketika tiba-tiba saat menaiki tempat tidur dari bagian kaki, saya melihatnya.

HP tua berwarna hitam itu, tergeletak dengan manisnya di atas kasur, tak tertutup sehelai benangpun. (disitu kan tempat selimut).

Tentunya saya pikir, tadi mami keluar mendapatkan hp itu, lalu meletakkannya kembali, lalu tidur. Langsung saja saya bertanya padanya yang hampir mulai tertidur lagi...

"Maaam, ini mami taro hpnya disini? Ini hp...???"
Mami langsung terbangun. "Haaah??? HP? mana HP? Enggak kok, dari tadi belum ketemu. Lah itu darimana?" ia balik bertanya kebingungan.
"Ini Vica nemu disini, di bawah sini.. Tak pikir mami tadi nemuin dari luar. Tadi malam pas ambil selimut kan ga ada..."
"Enggak kok, mami ga tau.. Alhamdulillaah ketemuuu"


Paginya, mami bercerita. Tadi saat saya sholat, dan beliau bersiap tidur lagi, beliau mendengar ada yang mengetuk pintu. Disangkanya si mba Sri yang mengetuk. Ternyata tidak ada siapa-siapa di luar. Tanpa curiga, beliau pun keluar untuk membuka-buka gordin jendela ruang tamu, seperti yang biasa ia kerjakan. Kemudian ia pun kembali menyelusup di bawah selimut. Saat ia hampir benar-benar tidur, ia terbangun mendengar pertanyaanku. Dan terjadilah percakapan di atas. Namun setelah menelisik kembali kejadian tadi subuh, kami pun bergidik. Rasa syukur atas penemuan itu membuat kami subuh tadi melupakan permasalahan utama. Siapa yang meletakkan HP itu di atas kasur? Semalam saat kami mengambil selimut di tempat ditemukannya HP itu, tempat itu masih kosong melompong. Lalu siapa yang mengetuk pintu? Apakah sebenarnya "si dia" menolong mencari lalu mengembalikan atau malah "dia" yang menyembunyikan? Entahlah...yang penting mami senang sudah mendapatkan kembali HPnya. Dan sampai sekarang masih misteri kenapa hal ini bisa terjadi dengan cepat.

Ya dengan cepat...Sewaktu di apartment di Jeddah, saya pernah mengalami kejadian serupa yaitu cincin kawin hubby jatuh saat saya sedang membersihkan meja rias. Herannya saya cari kemana-mana bahkan sampai seluruh kamar tidur saya telusuri dan geledah, si cincin tetap hilang. Sampai saya tidak pernah berani mevakum ruangan kamar tidur. Ketika kami sudah mulai melupakannya, kalau tidak salah 3-4 bulan kemudian, sang cincin tiba-tiba terlihat bertengger dengan antengnya di dalam lemari buku yang terletak di ruang makan yang berjarak 5 meter dari kamar tidur. Bahkan lemari itu pun hanya saya yang sering mengatur-atur. ART yang waktu itu bertugas, tidak pernah membukanya kecuali sewaktu saya tinggal ke Jakarta.

Maka dari itu kejadian ditemukannya lagi HP mami dengan cepat tentu masih menimbulkan tanda tanya. Apakah "si cantik" masih menghuni rumah mami walaupun "rumahnya" yaitu si pohon cempaka sudah ditebang gara-gara akarnya merusak lantai rumah. Wallahu a'ala a'laam bishowaab.

Rasanya tak akan habis cerita-cerita misterius yang ada di sekitar kami. Namun karena saya percaya keberadaan mereka sebagai makhluk Allaah, saya hanya bisa meminta perlindunganNYA semata.
Teringat cerita ustadzah saya, bahwa makhluk halus ini dapat melihat kita sekarang ini dan kita tidak dapat melihat mereka, kecuali mereka yang diberi penglihatan. Namun di dunia akhirat nanti, keadaan akan berbalik dan kita pun akan dapat melihat "mereka" dan "mereka" tak dapat melihat kita. Semoga kita dijauhkan dari "mereka2" yang jahat dan juga dari kejahatan "mereka"

A'udzubillahikalimatillahiitammati min syaari ma khalaq.

12 comments:

  1. Gue lumayan sering jadi 'bahan' umpet2an barang oleh 'mereka'. Biasanya mereka semakin seneng kalau kita panik nyari. Makanya, santai aja. Nanti nongol sendiri. Hihihi. Kl 'digodain', gue langsung ta'awuz lalu mencoba nyantai dan ga panik nyari. Eh ga lama nongol itu barang dengan ajaibnya. Btw, barang yg ilang bukan krn gue lalai naronya yaaa. Pernah gue naro simcard di laci lemari. Eh masa iya ketemu di lipatan jeans yg jarang gue pake. Atau kertas penting yg gue taro di ruang tamu taunya ada di kolong tempat tidur tamu. Hadeuhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emmmiii...pa kabaar. :). Katanya sih yg suka ngumpet2in gitu model poltergeist. halaah. Tapi skrg kayaknya lbh sering berasa bete drpd ngeri. Yg bikin merinding ya karena baru kali ini ada yg 'nganter'in barang smp ngetok2 pintu segala. Biasanya kan modusnya dibuat kirain kita yg ketelisut.

      Delete
  2. waaah maaak..mantap banget pengalamannya...saya pernah punya pengalaman serupa, suka ada yang iseng nyumputin...ada sepupu yang pernah ampe nangiiis karena boneka kesayangannya 'nyelip'...yah,percaya ngg percaya judulnya...setelah diubek2 ngg ketemu, 'minta' baik-baik..eh bonekanya nongol hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak, "mereka" itu memang kadang iseng aja jail. Alhamdulillaah sih ga sampe lebih dari sekedar jahil ya.

      Delete
  3. terpulang dari kisah di atas, saya kalo ada barang yang ilang malah ga mikir kalo "mereka" yang ngumpetin mbak, saya mikirnya saya yg lupa. jadi kalo ada barang yg ilang. saya langsung berusaha nyari berusaha untuk tidak dongkol apalagi marah2. cepet-cepet istighfar dan minta Allah mengikhlaskan hati saya kalo akhirnya emang ga ketemu. yah berarti jodoh saya sama barang tersebut cuma sampe di situ. tapi alhamdulillah kalo udah ikhlas gitu biasanya nemu. atau kalo ga nemupun. di ganti sama sesuatu yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama juga mak, saya termasuk orang pelupa juga pula. Ga ketemu ya kebuang kali, walau dongkol juga. Cuma 2 kejadian itu (HP n cincin, cincin udah lupa malahan), yang bikin kepikiran, kok bisaa.

      Delete
  4. Kejadian spt itu dl sering kami alami di rmh ibu didesa, sering bgt alat2 dapur hilang, dan bertenggerx dirmh kosong disblh rmh kami,...

    ReplyDelete
  5. beruntung yang nggak pernah melihat...sepertinya duna tenang dan damai saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betuuul. Sayangnya kita walaupun tidak pernah atau bisa melihat, tapi bisa merasakan :(

      Delete
  6. Mak,,, akhirnya saya baca juga cerita mak yang ini... Mata saya sampe berair gara2 merinding.... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sodorin tissu...makasih dah mampir ya maak...

      Delete