September 22, 2013

A Visit to an "Old Friend" called Rotterdam

Kubushuis, Rotterdam
Tamu kami minggu ini membawa suvenir untuk si Mas dari tempat yang baru dikunjunginya untuk konferensi Dies Natalis suatu Universitas terkenal di Belanda. Si Mas pun bertanya pada mommynya, apa sih universitas. Out of the blue, tiba-tiba saja pengen jalan-jalan aja ke luar kota. Yah kalau gitu kenapa kita tidak napak tilas saja ke kampus. Yah, namanya juga Belande, antar kota mah cuma sejam. Memang sih, bisa saja kami menunjukkan kampus di Amsterdam. Tapi, yah gimana ya. Ga ada chemistry gitu. Wong bukan kampusnya, jadi kan ga ngerti.

Akhirnya, kami pun berangkat tepat sebelum jam 1 siang. Di perjalanan aku pun berusaha menjelaskan sistem pendidikan Belanda dengan singkat ke si Mas dengan bantuan hubby. Maklum aku sendiri juga kurang mengerti toh. Di Belanda, kewajiban bersekolah dimulai dari usia 5 tahun. Umur segini, biasanya mereka masuk ke yang namanya grup 2. Grup 1 biasanya berisikan anak umur 4 tahun. Jadi semacam TK A dan TK B lah Grup 1/2 dan 3. Grup 1/2 isinya sih cuma main-main doang. Cuma cukup terstruktur mainnya. Kalau di sekolah si adek, dia disuruh milih main apa berdasar gambar. Gambar yang dipilih apa, berarti itu yang dia mainin. Mulai belajar yang agak serius, seperti belajar menulis dan berhitung di grup 3. Nah kalau sudah masuk grup ini, gada yaa bolos-bolos sembarangan. Maksimal 10 hari, itupun harus disetujui sekolah, kalau tidak, denda deh. Mahal pula denda disini. 

Seorang anak harus menyelesaikan basisschool (sekolah dasar) sampai Groep 8, atau kelas 6 di Indonesia dan Grade 6 di sistem US (sekolah anak-anak di Jeddah pakai sistem US Curriculum). Setelah itu mereka akan masuk ke Middelbaar school (sekolah menengah) selama 6 tahun. Sayangnya aku belum belajar banyak mengenai sistem middelbareschool. Next time in syaa Allaah diposting. Setelah 6 tahun di sekolah menengah baru deh kalau nilainya bagus dan mampu, bisa masuk universitas. Begitu loh maaas.... Dan untuk memperlihatkan skala besarnya suatu universitas dibandingkan dengan sekolahannya yang baru basisschool, mari mommy tunjukkin kota tempat mommy n daddy dulu ketemu... eheem...

Mejeng lagi disini 
Memasuki kota Rotterdam melalui Kralingen, tentu saja, kami langsung berbelok kanan menuju mantan kampus kami, Erasmus University. Ditunjukin deh ini kampus mommy, yang kecil dan baru . Dan itu kampus daddy yang paling tinggi sekompleks Erasmus dimana mommy dulu nambah-nambah duit saku dengan jagain perpustakaan kalau malam. Wah, banyak perubahan baru juga di kampus. Satu gedung pertokoan baru mengisi lapangan yang dulunya kosong. Lalu terdapat lapangan parkir baru di tempat yang dulunya kosong dan berisi parit (parit atau little pond ya?) Pokoknya semacam taman yang sebenernya ga bisa diakses maupun dinikmati. 

Pas lagi iseng-iseng mau foto, eh ketemu trio orang Indonesia yang ternyata sepasang ibu bapak yang sedang menjemput anaknya yang baru saja selesai sekolah disana. Huhuhu.. untung gue ga mewek di tempat. Keinget dulu cuma bisa didatengin mami aja. Maklum, dana kan terbatas. Wong sekolah disitu aja kalo ga dibayarin Stuned ga bakalan berangkat. Alhamdulillaah, dulu paling tidak mami bisa berangkat menjadi pendamping wisuda. 

Setelah puas liat-liat ke sekitar kampusku (ga ke kampus daddynya, jauuuh jalannya sih), kami pun menuju ke centrum, karena si  mommy kangen sama pasar Blaak, pasar tradisional yang cuma ada tiap Selasa n Sabtu. Pengen makan lekkerbek disana dan poffertjes Seth. Di Belanda ini ceritanya orangnya seneng banget bikin kompetisi toko makanan. Jadi ada kampioen (jawara)  warung patat atau Vlaamse frites (asal mulanya French fries dari sini ni, potongan panjang kentang digoreng. Tapi kalau aslinya, ya kentangnya potongan besar), ada kampioen poffertjes, kampioen olliebolen (makanan khas Belanda kayak roti digoreng yang cuma ada pas akhir tahun aja), pokoknya macem-macem kampioen deh. Nah Seth ini sudah lama banget berdirinya, dari yang cuma kedai biasa sampai jadi toko besar dan sudah sering jadi kampioennya poffertjes. Kami pun menjalani pathway menuju Blaak dan uhuk kecewa karena tenda tempat Seth poffertjessalon biasa berdiri, sudah tidak ada lagi. Huaaa... Kenapa ditutup...Kenaapaaa??!!!

Ya, sudah, dengan penuh rasa kecewa, akhirnya kami meneruskan langkah kami menuju Blaak market untuk mencari ikan goreng alias lekkerbek. Jadi ingat joke plesetan di antara kami jaman dulu, orang Belanda itu membolehkan mariyuana di jual bebas, tapi kok ikan harus dijual di Black Market, maksudnya Blaak sih hehehe. (Garing yak).  

poffertjes salon dari luar

interior poffertjes salon yang masih sama, walau sudah pindah tempat
Tidak jauh sebelum memasuki tenda-tenda Blaak markt, terdapatlah kursi-kursi bertutupkan payung-payung besar tanda berdirinya sebuah restoran. Kirain ada resto baru lagi berdiri di jajaran jalan tinggi (Hoogstraat) ini. Walaah, ternyata...itu adalah Seth Poffertjessalon. Horeee! Rejeki ga kemana.  Kami pun masuk ke dalam resto, karena kursi di luar sudah habis diambil orang yang menikmati suhu 20derajat dan matahari yang bersinar terakhir kali di musim panas sebelum musim gugur benar-benar datang. TErnyata mereka pindah ke tempat yang baru ini sekitar 2 tahun yang lalu. Memang sih tempat yang lama jauh lebih kecil dari yang sekarang, terutama pelataran luarnya. Toiletnya pun tidak harus masuk turun ke bawah tanah seperti di tempat yang lama. Yang penting akhirnyaaa, kesampaian ya kami makan poffertjes. Apalagi anak-anak ternyata sekarang ngefans juga sama kue cubit Belanda asal Prancis ini.


yummy poffertjes

Setelah itu baru deh kami mencari lekkerbek di Blaak. Dan seperti biasa saat weekend dan udara bagus, Blaak pun dipenuhi orang yang sibuk berbelanja keperluan harian. Hampir saja aku beli semangka cuma 1 euro. Cuma si calon porter males bawa-bawa semangka yang pastinya lebih dari 1 kg. Lekkerbek pun ketemu di satu tempat. Tidak seenak biasanya dan kecil pula. Yah habis agak males juga jalan-jalan jauh di tengah keramaian bareng anak-anak. So, seadanya dulu deh.


Belanja ikan di Black Market eh Blaak Markt

Lalu kami pun menuju ke arah parkir mobil untuk kembali ke rumah. Tapi tentunya tidak dengan tangan hampa dong. Yup, napak tilas kenangan memang biasanya diingat dengan makanan, makanya sebelum masuk ke gedung parkir, kami mampir dulu ke kafe favorit, Dudok. I remembered the guys from school used to hang out for breakfast every Sunday morning. Sementara kalau aku sih cuma datang sesekali saja. Kepentok modal hehehe...Appeltaartnya dan chocolate truffelnya enak boow. Tapi ternyata eh ternyata, tadi aku iseng tanya ke mbak-mbaknya."Mbaak, itu chocolatenya pake alkohol ga sih" 
"Oh iya dia pakai. Kalau appeltaartnya ga"... hoalaaah... Kenapa aku pake tanya siiih...loooh (hihihi)

yummmy cakees...(tapi ga boleh dimakan iih)

Setelah membawa 3 potong besar appeltaart dalam kotak (seharusnya beli 2 appeltaart dan 2 choco truffel, tapi apa mau dikata) kami pun kembali ke tempat parkir dan pulang menuju ke rumah.

The Famed Appeltaart

Lumayan, tanpa ada rencana apa-apa, hari ini bisa pergi melihat kota penuh kenangan. Kota yang setelah jam 5, hampir tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Kota yang dulunya kami juluki Rottendam saking boringnya. Makanya kota ini memang cocok buat sekolah dibanding Amsterdam yang banyak distractionnya. Kota yang bermuka dua, karena memiliki sisi wajah tua dan sisi modern karena bekas habis terbakar bom tentara Jerman di PD II. With lots of memories kept within, don't you worry, we'll come back to visit you again in syaa Allaah. 

4 comments:

  1. Saya juga pernah ke Rotterdam.. tapi bukan Belanda maak, benteng Fort Rotterdam di Makassar hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi kalau ke Rotterdam yang itu malah saya yg belum pernah mak :)

      Delete
  2. Poffertjes nya menggoda iman mak, ngecess seketika!!

    ReplyDelete